BRIN Hadiri Wisuda Sekolah Filologika di Museum NTB
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar acara Wisuda Sekolah Filologika angkatan IV tahun 2024 bertajuk "Melestarikan Khazanah Literasi Tradisi", pada Jumat (1/11/24).
Acara ini menandai pencapaian penting bagi para peserta yang telah menyelesaikan pelatihan intensif di bidang filologi, studi tentang manuskrip kuno, serta kajian naskah-naskah tradisional yang sangat berharga dalam memperkaya pengetahuan dan budaya NTB.
Acara wisuda ini dihadiri langusung oleh Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), As. Rakhmat Idris, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Aidy Furqan dan Tutor Sekolah Filologika, L. Agus Faturrahman.
Kehadiran BRIN dalam acara ini merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan kajian naskah kuno di Indonesia, terutama di wilayah NTB yang memiliki kekayaan naskah tradisional dengan nilai historis dan budaya yang sangat tinggi.
"Kami dari BRIN sangat mensuport dan mendukung sekali program ini. Kalo bisa jangan putus sampai di angkatan ini tapi terus dilanjutkan denga materi-materi yang lebih menarik lagi", uacap Perwakikan BRIN, As. Rakhmat Idris saat menghadiri acara wisuda filologika.
Menurutnya, adanya sekolah filologika ini akan melahirkan filolog-filolog yang sangat bisa membantu museum NTB dalam rangka mengeksplorasi dan mengkaji naskah-naskah kuno yang ada di Museum dan di masyarakat. Sehingga budaya dan sejarah yang ada di NTB bisa diketahui secara luas, terkuhusus naskah kuno.
"Ini program sangat unik dan harus dilanjutkan", tuturnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaa, Aidy Furqan menyapaikan bahwa museum tidak sekedar menjadi tempat peninggalan sejarah dan budaya, maka diharapkan sekolah filologika sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya kepada generasi.
"Jadi Kita manfaatkan museum menjadi tempat belajar bagi generasi kita", katanya.
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat memiliki koleksi naskah lontar berjumlah 1.275 sementara koleksi filologika (campuran) berjumlah 1.361 yang berbahan lontar, kayu, bambu, kertas tradisional (deluang), dan logam.
Naskah-naskah kuno yang dipelajari dalam sekolah filologika kali ini ditulis dalam aksara Jejawan atau Jawa Sasak yang berbahasa Jawa Madia, Sasak, dan Bali.
Media tulis dalam naskah tersebut berupa daun lontar dan pisau pangot yang ditulis dengan cara digores dengan sistem penulisan rectoperso (bolak-balik), dalam satu lempir itu terdiri dari 4 baris bagian muka, dan 4 baris bagian belakang.
Naskah ini biasanya bersi cerita atau ajaran agama atau petuah yang ditulis menggunakan aturan tembang atau puisi seperti: Dangdanggula, sinom, Asmarandana, Pangkur, Mas Kumambang, Durma dll.
Dengan jumlah koleksi yang ada sehingga perlu adanya kegiatan untuk melestarikan warisan yang menjadi ikon museum NTB.
Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam mengatakan sekolah filologika ini sebagai upaya pihaknya untuk membekali generasi muda dengan keterampilan dan pengetahuan filologi agar mereka mampu melakukan kajian, penerjemahan, serta menyampaikan isi dari naskah kuno kepada masyarakat.
"Kita berharap lulusan sekolah filologika ini dapat menjadi pelopor dalam pelestarian manuskrip dan naskah kuno yang ada di NTB, karena naskah kuno adalah salah satu bukti nyata sejarah peradaban kita yang harus terus dijaga", pungkasnya.
Wisudawan dan wisadawati yang lulus dalam sekolah filologika tahun ini berjumlah 11 orang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat yang diharapkan dapat menjadi generasi yang cinta terhadap budaya dan sejarah.
