Menuju Festival Museum Desa 2025, Museum NTB Lakukan Persiapan Awal
Menuju Festival Museum Desa 2025, Museum NTB gelar pelatihan khusus bagi para pengelola Museum Desa dari berbagai kabupaten dan desa. Pelatihan yang diperuntukkan bagi pengelola museum desa dan komunitas lokal tersebut digelar pada Rabu (12/11/2025) dan merupakan langkah awal persiapan menuju Festival Museum Desa 2025.
Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, mengungkapkan bawah pelatihan ini digelar untuk membina museum-museum desa untuk mengembangkan kapasitasnya menjelang Festival Museum Desa 2025.
“Kami ingin memastikan bahwa festival nanti bukan hanya seremonial, tetapi menjadi momentum kolaborasi nyata antar museum desa di NTB untuk berbagi pengalaman, menampilkan inovasi, dan memperkuat jejaring kebudayaan daerah,” katanya.
Senada juga disampaikan Kasi pengkajian Layanan dan Edukasi Museum NTB, Raden Heru mengatakan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas dan kompetensi para pengelola museum desa agar mampu menerapkan tata kelola yang baik.
"Jadi setelah pelatihan ini kami akan melakukan penilaian Museum Desa pada tanggal 25 hingga 27 November 2025," ujarnya.
Workshop tersebut diikuti oleh 16 peserta pengelola dari delapan museum desa dan komunitas lokal, diantaranya: Museum Desa Gegelang, KLU; Museum Pusaka Desa, Golong Narmada, Lobar; Desa Jerowaru, Lotim; Desa Semparu, Loteng; Desa Giri Madya Lobar; Desa Batu Kumbung Lobar; Desa Genggelang, Lobar; dan Sakra Milenial Bekerisan.
Pengelola Museum Pusaka Desa, Desa Golong, Lombok Barat, Sanusi menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini sangatlah penting bagi mereka pengelola museum desa.
Menurutnya, mereka selaku pengelola museum tidak hanya sekedar mengoleksinya saja tapi juga penting untuk merawatnya agar generasi kedepan dapat mengetahui benda-benda peninggalan sejarah dan budaya.
"Kegiatan seperti ini kami sangat membutuhkan, karena sangat penting dan sangat utama memang. Karena kalo kita ndak di bina bgini kan ndak tau bagaimna cara merawat," jelasnya.
Dengan begitu dengan pelatihan ini mereka dapat mengetahui tentang bagaimana cara merawat koleksi menggunakan bahan konservasi berdasarkan jenisnya, mukai dari jenis kayu, besi, aluminium, hingga kain.
"Kita ini di museum desa ini kan sebatas mengumpulkan, tapi merawatnya yang ndak bisa. Nah baru tadi kami di ajarkan tentang bagaimna pemeliharaan, menjaga, merawat. Jadi kami sangat berterimakasih kepada museum ini," ujarnya.
Festival Museum Desa 2025 diharapkan menjadi momentum kolaborasi antar museum desa di NTB untuk berbagi pengalaman, menampilkan inovasi, dan memperkuat jejaring kebudayaan daerah.
