Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam, M.H (Kiri mengenakan kemeja putih) beserta narasumber Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D., Guru Besar UGM sekaligus Ketua Dewan Juri Indonesia Museum Award ( tengah mengenakan topi) dan Dr. C. Musiana Yudhawasthi, M.Hum, Founder Komunitas Jelajah, (Kanan, mengenakan jilbab) Foto: Humas Museum NTB

Museum NTB Dorong Inovasi Ekonomi Berbasis Budaya

Dikutip dari: RRI | 2025-09-01 | Link Berita

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Komunitas Jelajah sukses menggelar acara Dialog Museum: Workshop Economy Experience Incubator di Aula Samalas, Sabtu, (30/8/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Indonesia Museum Award 2025 dan dihadiri oleh berbagai narasumber nasional, di antaranya Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D. (Guru Besar UGM sekaligus Ketua Dewan Juri Indonesia Museum Award), serta Dr. C. Musiana Yudhawasthi, M.Hum., (Founder Komunitas Jelajah).

Dalam paparannya, Prof. Wiendu menegaskan, bahwa museum memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis koleksi. Ia mencontohkan Museum Louvre di Paris yang berhasil menjadikan lukisan Mona Lisa sebagai ikon dunia, sembari menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dan perluasan jejaring kolaborasi.

“Museum harus berani mengenali koleksi unggulannya dan menjadikannya identitas yang dapat membanggakan sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif,” ujar Prof. Wiendu.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, S.H., M.H., menambahkan bahwa budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai romantisme masa lalu, melainkan juga sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat.

“Selama ini banyak yang merasa melestarikan budaya tidak memberi keuntungan. Melalui inkubator ini, kami ingin para peserta memahami bagaimana potensi budaya, sejarah, dan kesenian bisa diolah menjadi sesuatu yang produktif dan berkelanjutan,” jelas Nuralam.

Workshop ini diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas budaya, kepala desa, pelajar SLB dan SMK, hingga masyarakat umum. Nuralam juga menyoroti bahwa 99 desa wisata di NTB masih belum sepenuhnya mampu mengemas potensi lokal. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya agar wisata tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi.

Kasi Pengkajian dan Perawatan Museum NTB, Aulia Rahman A., menegaskan bahwa dialog ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi wadah inkubasi gagasan. Kegiatan ini mendorong museum di Indonesia agar terus berinovasi, berjejaring, dan berkontribusi nyata pada pembangunan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Komentar Masyarakat tentang Museum NTB

Siti Rohani (Pelajar SMK Mataram):

“Saya baru sadar kalau museum bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah, tapi juga bisa membuka peluang usaha kreatif.”

I Gede Arya (Pelaku Wisata):

“Museum NTB punya peran penting dalam memperkenalkan budaya Lombok dan Sumbawa. Kalau dikemas dengan teknologi digital, pasti bisa menarik lebih banyak wisatawan.”

Nuraini (Komunitas Seni Tradisional NTB):

“Acara ini membuka wawasan kami bahwa seni tradisi bisa diolah menjadi produk ekonomi kreatif, bukan hanya ditampilkan di acara adat.”

Museum NTB tidak hanya menjadi tempat pelestarian sejarah, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif berbasis koleksi dan budaya. Dengan kolaborasi bersama komunitas, teknologi digital, serta dukungan masyarakat, museum berpotensi menjadi pusat inovasi budaya yang mampu meningkatkan kesejahteraan daerah.