Museum NTB jadi Pusat Riset Artefak Repatriasi UGM
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima kunjungan tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (14/8/2025) untuk melakukan kajian terkait repatriasi koleksi artefak. Penelitian ini merupakan bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi budaya guna memperkuat riset ilmiah mengenai pengembalian artefak warisan Lombok.
Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, penelitian mendalam diperlukan untuk memperkaya deskripsi dan narasi dari artefak yang telah kembali ke tanah air, termasuk manuskrip lontar yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Harapannya, hasil riset ini dapat memberikan informasi lebih komprehensif.
"Karena benda tersebut telah menjadi cagar budaya nasional sehingga yang perlu lakukan adalah melakukan penelitian seperti manuskrip lontar yang turut dikembalikan," ujarnya.
Nuralam menambahkan bahwa artefak yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya memerlukan penelitian menyeluruh terkait dengan deskripsi dan narasi benda-benda yang direpatriasi Belanda agar dapat menambah informasi yang lebih komrehensif.
Sebelumnya, Pemerintah Belanda telah mengembalikan 472 artefak bersejarah milik sejumlah kerajaan di Nusantara, di antaranya 355 koleksi peninggalan Kerajaan Mataram di Lombok yang kini tersimpan di Museum Nasional.
Dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yulianti, Ph.D, menjelaskan bahwa penelitian yang dilaksanakan di museum ini bertujuan menjalin kerjasama penelitian yang menggali sejarah dan konteks budaya dari koleksi tersebut, di mana kerjasama juga dilakukan dengan komunitas sejarah di Lombok. Ia menegaskan bahwa repatriasi tidak sekadar berarti pengembalian benda, tetapi juga memahami makna sejarah dan keterikatannya dengan daerah asal.
"Jadi saya pikir repatriasi tidak bisa hanya dimaknai secara sempit pengembalian saja, tetapi juga kesejarahan dan makna sejarahnya," ucapnya.
