Museum NTB rawat ingatan anak-anak pesisir tentang kebudayaan lokal
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui program bertajuk Museum Masuk Sekolah berupaya merawat ingatan anak-anak pesisir tentang kebudayaan lokal yang tertuang dalam berbagai koleksi artefak.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan pihaknya menghadirkan empat boks artefak untuk diajarkan kepada para siswa di SD Negeri 5 Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat.
"Keempat boks itu menceritakan tentang adat istiadat, benda-benda yang memang terkait dengan tradisi masyarakat berupa keris, manuskrip, mata tombak, dan peralatan rumah tangga yang memang sering mereka lihat," ujarnya ditemui saat menjalankan program Museum Masuk Sekolah di Lombok Barat, Rabu.
Nuralam menuturkan zaman yang sudah modern membuat anak-anak generasi Alpha yang lahir mulai tahun 2010 ke atas tidak bisa lagi melihat benda-benda itu di sekitar mereka akibat pergeseran tren dan teknologi, kecuali melalui museum.
SDN 5 Sekotong Barat merupakan sekolah dasar yang berada di pesisir bagian barat laut Pulau Lombok. Jarak sekolah ke Museum NTB sejauh 49 kilometer yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor selama lebih kurang 1 jam 15 menit.
Program Museum Masuk Sekolah tidak hanya mengenalkan benda-benda kebudayaan lokal yang tersimpan di museum, namun juga mengajarkan kepada para siswa tentang cara merawat dan melestarikan berbagai artefak tersebut.
"Kami berharap mereka nanti ketika melihat benda-benda itu yang ada di sekitar, mereka bisa menjaga, melestarikan, dan merawat. Kalau yang berasal dari kayu seperti apa, yang berasal dari besi seperti apa," kata Nuralam.
Demografi SD Negeri 5 Sekotong Barat yang berjumlah 91 siswa mayoritas diasuh oleh nenek dan kakek karena orang tua mereka bekerja sebagai buruh di Pulau Bali. Sebanyak 60 persen orang tua siswa pergi merantau ke daerah lain.
Situasi itu tidak memungkinkan untuk anak-anak tersebut berkunjung langsung ke Museum NTB yang berada di Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Seorang siswa bernama Indriyani yang kini duduk di bangku kelas enam mengaku senang atas kedatangan petugas Museum NTB yang membawa belasan koleksi artefak ke sekolahnya. Dia tidak pernah pergi ke museum selama ini.
Pelajaran sejarah yang hanya didapat melalui buku-buku pelajaran atau foto dan video dari internet kini bisa langsung dirasakan melalui program Museum Masuk Sekolah.
"Kami akhirnya tahu tentang benda-benda kebudayaan yang ada di Nusa Tenggara Barat, seperti keris dan manuskrip lontar," kata Indriyani.
Museum Masuk Sekolah merupakan sebuah program edukasi yang dilakukan oleh Museum NTB untuk mengenalkan kebudayaan kepada para siswa dengan mengunjungi sekolah-sekolah di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Program yang didanai oleh Kementerian Kebudayaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik itu dilakukan setidaknya sebanyak tiga kali setiap tahun karena menyesuaikan dengan anggaran yang diberikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Kepala SD Negeri 5 Sekotong Barat Haris Kurniawan berharap program Museum Masuk Sekolah bisa berkelanjutan agar generasi muda menjadi lebih paham dan mengenal warisan leluhur mereka lewat artefak-artefak kebudayaan yang tersimpan di Museum NTB.
"Siswa kami akhirnya menjadi tahu nama-nama benda karena melihat langsung bentuknya. Setiap artefak punya label dan keterangan informasi yang mudah dibaca," pungkas Haris.
