DINAMIKA GASING LOMBOK

2019-10-08

A. Pendahuluan

 

Gasing merupakan permainan rakyat yang masih lestari di kalangan masyarakat Suku Sasak. Permainan ini sekarang berkembang dalam dua kategori umum yakni gasing kayu dan gasing besi. Dilihat dari sebaran permainannya gasing kayu dapat ditemukan di seluruh Pulau Lombok dan dimainkan oleh segala usia, sedangkan gasing besi dapat ditemukan pada komunitas-komunitas tertentu yang telah mulai mengembangkannya sejak akhir 1980-an.

 

Dalam Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah NTB tahun 2018, gasing dimasukkan sebagai salah satu objek kebudayaan daerah yang harus dimajukan. Selain Kota Mataram, tercatat Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, serta Lombok Timur mengusulkan gasing. Hal ini menjadi indikasi bahwa gasing dianggap sebagai salah satu bagian penting dari kebudayaan Suku Sasak. Perkembangannya terekam jelas baik dari segi bentuk maupun bahan pembuatan. Penggunaannya, meskipun dilaksanakan secara sporadis tetapi cukup menggambarkan bahwa gasing cocok untuk dimainkan oleh semua kalangan dari berbagai segmen usia.

 

Merujuk pada buku Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Nusa Tenggara Barat yang disusun oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud RI Tahun 1988, diketahui bahwa gasing Lombok telah mengalami banyak sekali perubahan (1988:vi). Bila dibandingkan dengan peresean, suling telu, dan topeng (tapel), gasing merupakan objek kebudayaan yang dianggap berkembang paling pesat. Hal ini terlihat dari aspek bahan pembuatan, bentuk gasing, hingga aturan permainan.

 

Dalam konteks pelestarian benda cagar budaya, gasing memerlukan perhatian khusus. Ini terkait dengan concern Pemerintah Daerah sebagaimana tertuang dalam PPKD Provinsi NTB, juga terkait dengan dinamikanya di masyarakat. Gasing Sasak, sebagaimana telah dikategorikan menjadi gasing kayu dan besi, melahirkan problem logis yang pada satu sisi menunjukkan usaha sungguh-sungguh masyarakat pecinta gasing, namun di sisi lain seolah meninggalkan segmen anak-anak dan remaja dalam upaya pelestariannya.

 

Hal ini dikemukakan berdasarkan kenyataan bahwa upaya pelestarian dalam bentuk turnamen gasing lebih menyasar pada segmen usia dewasa. Pada gasing kayu, turnamen yang dihelat baru-baru ini di Dusun Terbis Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan hanya melibatkan para pemain dewasa, meskipun gasing kayu dari segi ukuran dan harga pada dasarnya bisa dibuatkan turnamen juga untuk anak-anak dan remaja. Untuk gasing besi, popularitasnya yang terjaga berkat tampilan dan harganya yang mahal membuat gasing ini hanya bisa dimiliki dan dimainkan oleh kalangan tertentu saja. Kalangan yang dimaksud disini ialah orang dewasa yang memiliki cukup uang untuk membeli sepasang gasing yang perbuahnya dibanderol dengan harga minimal 500 ribu rupiah. Ditambah lagi dengan bobotnya yang dapat mencapai 5 kg, gasing besi menjadi ekslusif bagi sebagian besar peminat gasing. Yang dapat memainkannya dengan baik, entah itu diameter 17 cm maupun 23 cm tentu saja adalah pria dewasa. Anak-anak dan remaja pada kasus ini berpotensi sebagai penonton saja.

 

Atas dasar inilah, perlu ada kajian yang dapat menjelaskan secara ilmiah potensi serta upaya pelestarian yang optimal terhadap gasing baik gasing kayu maupun gasing besi. Kebahagiaan akan tetap semaraknya permainan gasing tertutupi oleh kegelisahan bahwa tidak ada generasi penerus yang terlibat langsung dalam permainan di lapangan. Pernyataan ini tidak bermaksud mengecilkan kebiasaan bermain gasing pada anak-anak, namun menyaksikan bahwa segmen usia ini tidak dilibatkan dalam kompetisi yang seharusnya mampu menjadi pendorong lebih besar lagi minat pada pelestarian gasing menimbulkan semacam keprihatinan.

 

Artikel ini fokus pada perkembangan gasing Lombok, yang jika dicermati kondisi terkini, terbagi pada gasing besi dan gasing kayu. Penelitian gasing besi dilaksanakan di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Tengah, sedangkan penelitian gasing kayu dilaksanakan di Kabupaten Lombok Utara. Dengan demikian, dalam penelitian ini, jika membicarakan gasing besi maka komunitas yang dimaksud ialah komunitas yang berada di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah, sedangkan pembicaraan tentang gasing kayu akan merujuk pada komunitasnya yang terdapat di Kabupaten Lombok Utara.

 

B. Temuan di Lapangan

 

Gasing Lombok, sebagaimana dinyatakan oleh Tim Peneliti dari Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI pada 1988 merupakan salah satu objek kebudayaan yang paling berkembang dibandingkan permainan rakyat/olahraga tradisional Suku Sasak lainnya. Beberapa aspek yang dapat dikaji dari dinamika ini diantaranya ialah populernya jenis gasing besi, pelembagaan pelestarian gasing Lombok, termasuk peran penting pemerintah dalam upaya pelestarian gasing yang berkesinambungan.

 

Tidak dapat dipungkiri, gasing besi pada Suku Sasak merupakan ikon yang sangat populer dalam pembicaraan perihal permainan rakyat Indonesia kontemporer. Jenis gasing ini telah bertransformasi menjadi jenis permainan rakyat dengan publikasi yang cukup luas baik secara nasional maupun internasional. Bila kita mengetikkan frasa “gasing Lombok” pada mesin pencari Google, hasil pencarian teratas adalah gasing besi. Ini tidak mengherankan bagi sebagian orang di Suku Sasak sebab menjelang tahun 1990-an, gasing jenis inilah yang mendapat “panggung” di kalangan pecinta gasing.

Berbagai turnamen diadakan. Gasing besi berbagai ukuran dipertandingkan. Hampir setiap tahun, gasing besi tidak pernah absen mengisi agenda perayaan 17 Agustus. H. Iskandar menuturkan bahwa Masbagik dulunya merupakan daerah yang paling sering mengadakan pertandingan gasing ini. Perlahan tapi pasti, gasing besi menjadi primadona baru yang sukses menggeser keberadaan gasing kayu.

 

Dibandingkan dengan gasing kayu yang keberadaannya merata pada hampir semua suku bangsa di Indonesia, gasing besi dari Lombok merupakan jenis yang unik. Unik karena materialnya tersusun atas kayu dan besi/baja, proses pembuatannya memakan waktu lebih dari satu bulan karena kayunya harus dioven terlebih dahulu, bobotnya mencapai 5 kilogram, serta dijual dengan harga yang mahal. Keunikan ini yang mendapuknya beberapa kali dipamerkan di luar negeri. Pada 22-27 Juli 2017, gasing besi dibawa ke Inggris oleh kolektor gasing Indonesia Endi Aras untuk dipamerkan dalam ajang Indonesia Weekend di London.

 

Faktor material yang kuat dan kokoh membuat gasing besi memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dibandingkan dengan jenis gasing lainnya. Mengingat bahwa gasing Lombok umumnya merupakan gasing adu pukul, kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh gasing besi merupakan salah satu yang terbaik di jenisnya. Atas dasar ini pula gasing besi banyak dipesan oleh kolektor gasing. Penuturan M. Iztakim Mawalli, gasing Lombok merupakan salah satu gasing yang paling banyak dikirim ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Ia yang merupakan pemerhati gasing, pemain gasing, sekaligus sebagai penjual gasing menyampaikan bahwa ia pada bulan September baru saja mengirimkan gasing besi yang dipesan oleh pemilik Roxy Mas, ia juga baru mengirimkan pesanan gasing ke Arizona (AS), dan sedang mengerjakan pesanan dari seorang anggota Konsulat Jenderal India di Jakarta.

 

Menilik pada dua kondisi di atas, bahwa gasing besi merupakan jenis gasing yang paling populer, dan bahwa gasing besi memiliki prospek ekonomi yang jauh lebih baik daripada jenis gasing kebanyakan, awalnya diduga bahwa dengan ini gasing besi telah memiliki ekosistem sosial budaya ekonomi yang mapan. Nyatanya, tidak selalu demikian kondisinya di lapangan.

 

Pertama, dengan mengukuhkan dirinya sebagai alat permainan yang berat dan mahal bagi sebagian besar orang, gasing besi menjadi barang yang eksklusif. Mempertimbangkan bobot dan diameternya, praktis gasing besi hanya dapat dimainkan oleh orang dewasa. Menimbang harganya yang berkisar 500 ribu – 1 juta rupiah, dan seorang pemain biasanya memiliki sepasang gasing yang berarti uang yang harus dikeluarkan untuk membeli gasing adalah dua kali lipat, maka gasing besi hanya dapat dimiliki oleh orang berduit atau setidaknya oleh penggemar militan yang rela mengeluarkan uang minimal 1 juta rupiah demi dapat bermain di tempat-tempat yang jauh selama berminggu-minggu tanpa asuransi keamanan yang pasti.

 

Kedua, gasing besi menjelang 30 tahun kemunculannya belum mampu menciptakan lembaga yang mampu mengakomodasi segenap infrastruktur dan agenda yang dibutuhkan dalam rangka pemertahanan dan pengembangan gasing besi. Pada saat pengkajian dilaksanakan, para pelaku gasing baik yang ada di Lombok Tengah maupun Lombok Timur mengakui bahwa pelestarian gasing besi baru dilakukan pada level komunitas yang terdapat di desa-desa. M. Iztakim Mawalli menuturkan bahwa terdapat sekitar 50 komunitas gasing besi sepulau Lombok. Sayangnya, dengan komunitas sebanyak itu belum terbentuk satu wadah yang mampu mewakili aspirasi seluruh anggota komunitas.

 

Para pelaku gasing besi yang terlibat pada saat pengkajian berlangsung menyuarakan perlu adanya sebuah lembaga berbadan hukum yang dapat memayungi seluruh komunitas gasing yang ada di Pulau Lombok, yang dengan itu dapat memberi manfaat bagi pengembangan gasing besi di masa depan. H. Main dan Bapak Heri Dari Desa Pesanggarahan maupun Amaq Hangka dari Desa Langko mengungkapkan bahwa gasing besi membutuhkan perhatian agar tetap langgeng di kalangan generasi penerus. Agar diperhatikan maka komunitas gasing harus diperkuat terlebih dahulu. Cara utamanya adalah dengan membentuk lembaga/badan yang terstruktur dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

 

Tidak adanya organisasi resmi gasing membuat para pelaku (perajin dan pemain) merasa sungkan untuk meminta bantuan dana dan fasilitas pada saat hendak melaksanakan turnamen. Kondisi ini berimplikasi pada dua hal. Di satu sisi, lemahnya daya diplomasi gasing di birokrasi pemerintahan. Di sisi lain, kuatnya jejaring komunitas akibat keinginan dan perasaan yang sama untuk melestarikan permainan rakyat ini.

 

Terbentuknya organisasi gasing yang resmi bukan harapan yang muluk-muluk mengingat eksistensi gasing besi yang telah cukup lama mengakar pada masyarakat Suku Sasak. Bahkan, ekspansinya ke luar daerah seperti Pulau Sumbawa maupun wilayah Indonesia lainnya sebagaimana dituturkan oleh H. Iskandar dan M. Iztakim menunjukkan bahwa gasing ini sudah selayaknya memiliki struktur organisasi yang mapan. Dengan adanya lembaga yang baku pada setiap jenjang dari desa hingga provinsi, diharapkan gasing dapat lebih dikenal lagi tidak hanya pada kalangan masyarakat Suku Sasak, tetapi juga oleh suku bangsa lainnya di seluruh Indonesia. Manfaat lain yang dapat diperoleh dari wacana ini adalah bahwa organisasi yang terbentuk nantinya dapat menginisiasi dan mengadvokasi terbentuknya aturan permainan yang baku sehingga dengan demikian terdapat standar yang disepakati oleh semua pemain gasing.

 

M. Iztakim Mawalli, selaku Ketua Langkung Buana Gasing Community (LBGC) menuturkan bahwa pihaknya memang telah mewacanakan ide-ide tersebut. Menurutnya, LBGC berencana membentuk paguyuban gasing. Pada tahap awal direncanakan dibentuk di  Kabupaten Lombok Tengah. Tahap berikutnya dibentuk paguyuban pada tingkat provinsi, lalu mengadakan sosialiasi ke luar daerah. Target prestisius dari LBGC adalah memasukkan gasing sebagai bagian dari cabang olahraga Pekan Olahraga Nasional (PON).

 

Ketiga, terdapat paradigma yang keliru perihal gasing besi. Anggapan bahwa para pelaku gasing besi merupakan orang-orang yang mampu secara finansial menyebabkan pemangku kebijakan khususnya pemerintah merasa tidak perlu terlibat dalam memfasilitasi ajang-ajang pelestarian gasing. Akhirnya, paradigma ini berimbas pada perkembangan gasing besi yang surut di beberapa tempat akibat ketidaktersediaan arena khusus untuk bermain serta kesempatan untuk tampil memeriahkan momen-momen hari besar nasional tertentu. 

 

Gasing besi termasuk juga gasing kayu disadari atau tidak merupakan simpul ekonomi yang menjalin sejumlah besar pekerjaan yang dapat menghasilkan uang bagi para pelakunya. Dari bahan paling awal, pekerjaan membuat gasing telah menjadikan sejumlah orang berperan sebagai pengepul kayu dan besi/baja bekas. Dua jenis bahan ini kemudian melahirkan beberapa jenis pekerjaan baru seperti tukang oven kayu dan tukang pembuat lengker. Di Masbagik contohnya, pekerjaan membuat gasing memiliki diversifikasi hingga pada beberapa jenis profesi, termasuk tukang las yang nantinya akan memasang tambahan baja pada paku gasing. Pada tahap finishing, pekerjaan membuat gasing menarik serta profesi tukang cat dan tukang pembuat alit.

 

Ada rantai simbiosis yang berputar disini. Ada kondisi saling bergantung satu sama lain dalam permainan rakyat ini. Dan sebagaimana diungkapkan oleh banyak pemain gasing, kondisi semacam ini hanya dapat bertahan karena kecintaan para pemain terhadap permainan gasing, suatu sikap yang tidak dapat dinilai dengan entitas material seperti halnya uang.

 

Hal ini terbukti bahwa untuk dapat menyelenggarakan sebuah turnamen, para anggota komunitas biasanya mengelola dana penyelenggaraan dari dua sumber yakni uang pendaftaran komunitas serta bantuan sponsor. Lebih sering, suatu turnamen berjalan hanya dengan mengandalkan uang pendaftaran saja. Nominalnya berkisar antara 250 ribu – 500 ribu rupiah per komunitas. Jika suatu turnamen diikuti oleh 40 komunitas, maka uang pendaftaran yang terkumpul berkisar antara 10 juta – 20 juta rupiah.

 

Dana itulah yang dikelola sebagai hadiah dan operasional lomba, termasuk sebagai honor wasit yang besarannya 50 ribu rupiah tiap orang tiap pertandingan. Jika turnamen gasing selesai dalam waktu 40 hari x 2 pertandingan, maka dana yang dikeluarkan untuk honor wasit ialah sebesar 50 ribu x 2 orang x 40 hari = Rp. 4 Juta Rupiah. Masih tersisa sekitar 16 juta rupiah untuk hadiah dan operasional lainnya.

 

Pertandingan gasing bisa mencapai waktu pelaksanaan sampai tiga bulan, tergantung jumlah tim yang ikut bertanding. Hal ini dikarenakan dalam begasingan tidak dikenal istilah sistem gugur, jadi semua tim berpeluang untuk bertemu satu sama lain. Hadiah terbesar bisa berupa seekor sapi. Oleh panitia bisa diuangkan dan dibagi rata ke anggota regu. Kalau anggota regu tidak menghendaki hadiah dalam bentuk uang, maka mereka tetap menerima seekor sapi. Waktu, tenaga, dan uang yang dihabiskan untuk mengikuti turnamen tidaklah sebanding dengan nominal hadiah yang diperoleh. Yang membuat para pelaku gasing tetap antusias mengikuti turnamen gasing ialah karena mereka disatukan oleh hobi yang sama bahwa gasing merupakan sarana hiburan yang menyenangkan.

 

Untuk gasing kayu, popularitasnya di masa kini belum pudar. Meskipun gasing besi telah mendapat tempat yang luas di kalangan pemerhati gasing Lombok, pun di media sosial masyarakat awam juga lebih mengenal gasing besi asal lombok daripada gasing kayu pendahulunya, namun bila dicermati lebih teliti lagi, dapat dipahami bahwa gasing kayu ada pada semua segmen pelaku gasing. Gasing ini bertahan pada sisi-sisi tradisional yang tidak lekang dimakan waktu.

 

Gasing besi boleh saja dikenal luas sebagai ikon objek permainan rakyat Lombok, namun harus disadari bahwa gasing kayu merupakan pondasi yang mengukuhkan pengetahuan banyak orang tentang bermain gasing. Harganya yang relatif murah serta ukurannya yang lebih kecil dari gasing besi membuat gasing kayu dapat dimainkan oleh segala jenjang usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini menjadi indikasi bahwa gasing kayu memiliki basis pengguna yang lebih kuat di semua latar usia.

 

Kelebihan lain dari gasing kayu ialah bahwa ia lebih gampang dibuat. Material yang tidak terlalu banyak membuat perajin dapat menyelesaikan pengerjaan lima buah gasing kayu dalam satu hari. Di samping itu, gasing kayu juga lebih gampang direstorasi. Pada turnamen yang berlangsung di Lombok Utara bahkan dikenal istilah waktu jeda (time out) selama 2 menit yang mengizinkan para pemain untuk memperbaiki gasingnya yang rusak dalam pertandingan. Kedua hal ini merupakan poin penting yang menandai kokohnya daya tahan gasing kayu di masyarakat. Secara publikasi bisa saja ia tidak setenar gasing besi, tetapi secara aplikasi ia telah dapat dibuat dan dimainkan bahkan oleh anak-anak, segmen dalam konteks pelestarian tidak dapat dimasuki oleh gasing besi.

 

C. Kesimpulan

  1. Secara umum di Lombok berkembang dua jenis gasing yakni gasing kayu dan gasing besi;
  2. Gasing besi merupakan objek kebudayaan berupa permainan rakyat yang berkembang pesat di Pulau Lombok;
  3. Gasing kayu tersebar di seluruh kabupaten/kota di Pulau Lombok. Gasing kayu pada dasarnya bervariasi dari segi bentuk dan bahan, dan masih dipertandingkan di beberapa tempat misalnya di Kabupaten Lombok Utara dan di Kota Mataram;
  4. Ketiadaan organisasi resmi gasing berdampak pada minimnya daya diplomasi gasing terhadap dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan turnamen serta penyediaan lapangan bermain gasing;
  5. Rantai produksi gasing meliputi penjual kayu, pengepul barang bekas (besi/baja), pembuat alit, pembuat lengker, pembuat gasing, tukang cat, pengepul gasing (biasanya dijual pada saat turnamen);
  6. Manfaat gasing baik gasing kayu maupun gasing besi diantaranya ialah mengangkat ekonomi masyarakat karena mampu menyediakan lapangan kerja, menghadirkan ikatan silaturrahmi antarpemain, serta dapat menjadi ajang promosi wisata dan budaya daerah;

 

D. Saran

 

Penelitian mengenai gasing Lombok merupakan topik yang luas sebab di Kota Mataram juga berkembang turnamen gasing kayu dengan dimensi yang berbeda dari jenis gasing yang dikembangkan di Kabupaten Lombok Utara. Belum lagi jika mempertimbangkan variasi-variasi pada gasing kayu dan gasing besi, satu kali pengkajian tidak akan cukup untuk merangkum segenap informasi yang berkembang di masyarakat. Atas dasar itu pula, disarankan perlunya penelitian lanjutan dalam rangka pendalaman terhadap topik ini mengingat gasing merupakan salah satu aset yang dibanggakan dan diusulkan serentak sebagai objek Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah oleh empat kabupaten di Pulau Lombok. Semoga di masa mendatang akan ada penelitian yang lebih lengkap mengenai gasing Lombok ini.

 

Daftar Pustaka

 

Depdikbud RI. 1988. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan

 

Pemerintah Provinsi NTB. 2018. “Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat”. Mataram: Bidang Kebudayaan Disdikbud Provinsi NTB

 

 

IDENTITAS INFORMAN

  1. H. Iskandar, 48 Tahun (Paok Kambut)
  2. Heri, 50 tahun (Desa Pesanggrahan)
  3. Muhammmad Iztakim Mawalli, 46 Tahun (Desa Langko)
  4. Amaq Hangka, 60 Tahun (Desa Langko)
  5. H. Main, 62 Tahun (Desa Pesanggrahan)