DINAMIKA KAIN SONGKET KERE ALANG
2019-08-08
Sebaran Sentra Kerajinan
Kere Alang mengalami masa pasang surut perkembangan yang cukup dinamis. Salah satu pendorong kebangkitannya pada tiga dasawarsa terakhir ialah kegiatan upacara adat yang mengharuskan para peserta menggunakan pakaian adat, sementara tidak semua masyarakat Sumbawa pada masa itu memilikinya. Menurut penuturan Bapak Aris Zulkarnaen, sebagaimana dituliskan oleh Kusumastuti (2016:41), bahwa tingginya permintaan tersebut menyebabkan masyarakat Sumbawa meminta tolong kepada bapak Aris Zulkarnaen untuk meminjam berpuluh-puluh kain ke desa-desa penghasil Kere Alang. Hal ini terus menerus terjadi sehingga Pemerintah Kabupaten Sumbawa pada tahun 1974 memberi solusi dengan cara mengadakan pelatihan tenun secara massal di beberapa desa seperti Desa Simu, Poto, Alas, Alas Barat, dan sebagainya.
Di masa kini, di antara desa-desa tersebut ada yang masih melestarikan tradisi menenun namun ada pula yang tidak terdengar lagi beritanya. Desa-desa yang kini dianggap sebagai sentra kerajinan kain tenun di Kabupaten Sumbawa tersebar di dua kecamatan yaitu di Kecamatan Moyo Hilir dan Moyo Utara. Di Kecamatan Moyo Hilir, sentra kerajinan tersebut berada di Desa Poto dengan sebaran dusun yakni di Dusun Poto, Bekat, Samri, dan Malili. Kemudian di Desa Moyo Mekar terdapat pula sentra kerajinan tenun namun khusus memproduksi tenun ikat. Di Kecamatan Moyo Utara, sentra kerajinan kain tenunnya terletak di Dusun Senampar Desa Sebewe.
Salah satu faktor pendorong naiknya tren produksi Kere Alang pada desa-desa tersebut di atas kurang lebih berdasar pada faktor keprihatinan dari penenun setempat perihal maraknya kain tenun khususnya Kere Alang yang dibuat tidak sesuai standar mutu dan estetika khas Kere Alang Sumbawa. Menjamurnya event-event budaya yang mendorong tingginya permintaan pasar terhadap busana berbahan dasar Kere Alang mendorong lahirnya produksi massal kain songket ini di Desa Sukarara Lombok tengah, jauh dari tanah kelahirannya sendiri. Keprihatinan dari penenun maupun budayawan muncul ketika Kere Alang tersebut berbeda dan dianggap lebih jelek dari yang diproduksi di Pulau Sumbawa. Keberadaan kain Kere Alang yang dibuat di Desa Sukarara, karena mengejar permintaan pasar, meninggalkan konsep dasar yang seharusnya melekat pada kain songket ini. Menurut H. Hasanuddin, perbedaan Kere Alang buatan Sukarara dengan Kere Alang buatan Sumbawa adalah bahwa kain songket Kere Alang buatan Sukarara tidak memiliki alu (kepala kain) sebagaimana yang lazimnya diproduksi di Kabupaten Sumbawa. Di samping tenunannya yang kurang rapi dan tidak rapat, tidak adanya alu pada tenun songket Kere Alang buatan Sukarara dianggap telah menghilangkan makna simbolik yang tertuang pada alu kain.
Di kalangan penenun, selain keprihatinan bahwa Kere Alang menurun pamornya akibat kualitas buruk pengerjaannya oleh sentra kerajinan luar, serbuan Kere Alang buatan Sukarara ini juga mengganggu secara nilai ekonomi sebab Kere Alang buatan Sukarara biasanya dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada Kere Alang buatan Sumbawa. Menurut salah seorang penenun di Desa Poto, bahkan ada Kere Alang yang dijual hingga Rp. 700 ribu. Menyikapi kondisi ini, Ibu Aminah Latief, salah seorang penenun dari Dusun Poto tergerak hatinya untuk menjaga kelestarian kain songket Kere Alang baik dari segi kualitas pengerjaan maupun dari aspek pangsa pasar yang sudah ada. Ia bersama anggota keluarga dan para tetangga yang ada di sekitar Desa Poto kemudian menginisasi pembentukan sebuah wadah yang visinya adalah melindungi kualitas dan estetika Kere Alang. Wadah tersebut diberi nama Asosiasi Penenun Tradisional Samawa, didirikan sekitar bulan Maret Tahun 2019 dan diketuai oleh Ibu Aminah Latief, S.Psi dari Dusun Poto.
Bila dilihat dari struktur kepengurusan yang ada, baik pada bidang-bidang maupun koordinator wilayah dusun, dapat disaksikan bahwa asosiasi ini merangkul penenun dari enam sentra utama yaitu Poto, Bekat, Samri, Senampar, Moyo Mekar, dan Malili. Di antara keenamnya, dengan memperhatikan lagi dinamika perkembangan Kere Alang sejak era 1970-an, dapat disimpulkan bahwa Desa Poto merupakan yang terlama dan terbanyak memproduksi kain tenun khususnya Kere Alang. Menurut pengakuan penenun yang ada di Dusun Senampar, mereka dulu belajar untuk menenun ke Desa Poto. Di samping karena Desa Poto lebih dahulu populer sebagai sentra tenun, para perajin tenun di Desa Poto juga tersebar di beberapa dusun sehingga peluang untuk alih keterampilan bagi para perempuan dari desa lain menjadi lebih terbuka.
- Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir
Penghidupan masyarakat Desa Poto sebagian besar bertani. Di samping bertani para gadis juga mengerjakan pekerjaan lain yaitu menenun. Perkembangan menenun di Desa Poto sewaktu diadakan Survey Pengadaan Koleksi Museum di Kabupaten Sumbawa pada tahun 1985/1986 mengalami perkembangan yang pesat karena lancarnya daerah pemasaran. Motif yang dikembangkan pun bermacam-macam. Saat itu hampir setiap rumah ada orang yang mengerjakan tenunan. Bahan tenunan yang digunakan, di samping dibuat sendiri dari kapas, juga diperoleh dengan membeli dari toko yaitu semacam benang sutra. Menurut masyarakat Desa Poto, proses pengolahan kapas menjadi kain memakan waktu kurang lebih seminggu (1986:11-13).
Masyarakat Desa Poto, sebagaimana masyarakat Indonesia lainnya, mempunyai upacara yang berhubungan dengan pesta adat seperti perkawinan, khitanan, dan sebagainya. Pakaian pesta adat ini berbeda dengan pakaian sehari-hari. Pada umumnya pakaian pesta adat terbuat dari bahan yang lebih halus seperti benang sutra serta diberi berbagai macam motif (1986:11-13).
Di Desa Poto, perajin tenun tersebar di Dusun Poto, Dusun Bekat, Dusun Samri, dan Dusun Malili. Data dari Asosiasi Penenun Tradisional Samawa (APDISA) menunjukkan bahwa jumlah penenun di Dusun Poto ialah sebanyak 35 orang penenun, di Dusun Bekat terdapat tiga kelompok tenun dengan jumlah anggota 45 orang, dan di Samri satu kelompok dengan anggota 64 orang. Adapun untuk Dusun Malili tidak dijelaskan secara rinci. Namun, dari Ibu Husnulyati, salah seorang pengurus APDISA diperoleh keterangan bahwa di Dusun Malili, termasuk juga Dusun Poto sedang berlangsung proses regenerasi kelompok penenun. Hal ini juga terjadi di Dusun Senampar Desa Moyo Utara.
- Desa Moyo Mekar Kecamatan Moyo Hilir
Dibandingkan dengan dusun-dusun lainnya baik yang berada di Kecamatan Moyo Hilir maupun Kecamatan Moyo Utara, Desa Moyo Mekar Kecamatan Moyo Hilir merupakan salah satu sentra kerajinan tenun yang fokus pada pembuatan tenun ikat. Ketika Tim Pengkajian menyambangi POS UKK Karya Mandiri yang diketuai oleh Bapak Khairuddin Nurdin, diketahui bahwa untuk Desa Moyo Mekar sebagian besar penenun memang khusus membuat kain tenun ikat. Beliau tidak menampik jika ada satu dua penenun yang memang memproduksi Kere Alang.
Tenun ikat di Desa Moyo Mekar mulai dikembangkan sejak tahun 1992. Kelompok penenun yang ada di desa ini merupakan kelompok binaan Disperindag Kabupaten Sumbawa. Di bawah naungan UKK Karya Mandiri, terdapat kurang lebih 20 orang penenun. Namun menurut penuturan Bapak Khairuddin Nurdin, yang masih aktif sekitar 10 orang. Masing-masing penenun memiliki tugas tersendiri dalam rangkaian pembuatan tenun: ada yang memintal, mengikat, menghani, mewarnai, menggulung, dan menenun.
Motif yang dikembangkan, lazimnya seperti motif pada kain songket Kere Alang, ialah kemang setange dengan berbagai sebutannya (kemang pona, kemang kedele), lonto engal, menjangan, dan lain sebagainya. Bedanya, motif serta ragam hias yang dituangkan pada selembar tenun ikat tentu tidak sekaya seperti halnya ragam hias pada kere alang. Tenun ikat yang dikembangkan di Dusun Moyo Atas Desa Moyo Mekar masih mempertahankan motif sebagai kontras atas bidang warna utama pada kain.
Dengan demikian, tren yang berkembang selain stilisasi motif pada kain tenun ikat ialah kombinasi warna. Jika sejak 1992 hingga 2014 gradasi warna antara bagian dasar tenun ikat dengan motif biasanya serumpun (hijau tua dengan hijau muda, merah tua dengan merah muda, dan seterusnya), maka sejak 2015 mulai muncul mode gradasi warna kontras antara bagian dasar dengan motif, misalnya bahan dasar warna biru dongker dengan motif berwarna jingga.
- Dusun Senampar Desa Sebewe Kecamatan Moyo Utara
Dibandingkan dengan dua sentra sebelumnya yakni Desa Poto dan Desa Moyo Mekar, Dusun Senampar yang terletak di Desa Sebewe Kecamatan Moyo Utara tergolong belakangan dalam pengembangan kerajinan tenun khususnya kain songket Kere Alang. Dikutip dari Kusumastuti (2016:41) keberadaan para perajin tenun di Dusun Senampar bermula setelah diadakannya berbagai pelatihan menenun oleh pemerintah pada sekitar tahun 1974 terhadap beberapa desa seperti Simu, Poto, Alas, dan Alas Barat. Melihat upaya pelestarian tersebut, masyarakat Dusun Senampar tergerak hatinya untuk ikut belajar menenun. Pada saat itu, masyarakat Dusun Senampar belum memiliki keahlian untuk menenun kain songket. Keahlian menenun atau nesek didapatkan dari para penenun di Desa Poto yang bersebelahan dengan Desa Sebewe. Mereka kemudian belajar secara bertahap mulai dari proses menghani benang sampai dengan cara membuat motif hingga menjadi sebuah kain utuh.
Dengan keahlian yang telah didapatkan, Dusun Senampar akhirnya diperhitungkan sebagai salah satu daerah penghasil tenun. Namun dalam perkembangannya, jumlah perajin tenun di Dusun Senampar sempat mengalami penurunan drastis. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, sebagaimana diungkapkan oleh Kusumastuti, yakni: 1) pilihan pekerjaan. Bagi sebagian besar penenun di masa itu, bertani merupakan pekerjaan pokok sedangkan menenun hanyalah pekerjaan sampingan. 2) durasi pembuatan. Proses pembuatan kain tenun dari memintal kapas hingga menjadi benang juga memakan waktu yang cukup lama hingga satu bulan. 3) harga bahan pokok yakni kapas yang mahal. 4) kurangnya minat generasi muda untuk meneruskan keterampilan menenun tersebut.
Sekarang ini, seiring meningkatnya promosi kebudayaan dan pariwisata, termasuk salah satunya penggunaan kain tenun sebagai tren fesyen membangkitkan minat masyarakat di Dusun Senampar untuk kembali menenun. Hal ini ditunjang pula oleh kebijakan dari pemerintah daerah dalam bentuk berbagai event budaya dan pariwisata tang melibatkan penggunaan kain tenun. Bahkan, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, sebagaimana dituturkan kepada Tim saat survey pada 14 Juni 2019, Bupati Sumbawa secara khusus memerintahkan kepada para pejabat struktural untuk mengikuti fashion show menggunakan kain songket Kere Alang.
Kegiatan-kegiatan semacam ini, baik yang digagas oleh pemerintah maupun swasta melahirkan permintaan pasar yang cukup tinggi akan kain tenun Sumbawa. Ini menjadi salah satu faktor yang membangkitkan kembali semangat menenun pada sebagian besar masyarakat Dusun Senampar. Terakhir pada saat kegiatan pengkajian berlangsung, diketahui bahwa di Dusun Senampar terdapat sekitar tiga puluh orang penenun yang terbagi dalam dua kelompok yang masing-masingnya terdiri atas lima belas orang penenun. Kelompok yang dikunjungi oleh Tim pada saat pengkajian ialah Saling Sakiki. Kelompok penenun yang beranggotakan lima belas penenun ini diketuai oleh Ibu Sahela (42 Tahun).
Pewarisan Tata Cara Pembuatan (pengetahuan akan bahan, motif, warna, dll.)
Kesimpulan yang dapat dipetik dari kegiatan Pengkajian Koleksi Kain Tenun Sumbawa terkait dengan pewarisan tata cara pembuatan ialah bahwa terdapat sejumlah perbedaan dalam rantai produksi kain tenun khususnya Kere Alang antara masa lampau dengan hasil temuan terkini. Pertama, berkebalikan dengan dugaan tim saat melakukan survey, para penenun ternyata lebih memilih menggunakan alat tenun gedogan daripada Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Beberapa alasan penenun terkait kecenderungan pemertahanan penggunaan alat tenun gedogan antara lain ialah bahwa mereka lebih familiar dengan alat tersebut, peralihan ke ATBM tentu saja membutuhkan waktu untuk belajar dan beradaptasi sementara penenun yang aktif rata-rata berusia di atas 50 tahun. Menurut Ibu Husnulyati, ATBM butuh tenaga laki-laki terutama dalam proses menghani karena alat-alat yang digunakan cukup berat dan butuh tenaga ekstra sehingga penenun merasa lebih nyaman menggunakan gedogan. Di samping itu, tenun gedogan bisa menghasilkan kain tenun yang lebih bervariasi (Palekat, Tenun Ikat, Songket) daripada ATBM yang dianggap hanya bisa menghasilkan tenun ikat. Kelebihan ATBM di mata penenun menurut Ibu Husnulyati adalah bahwa alat ini mampu menghasilkan kain yang lebih lebar daripada alat tenun gedogan. Kedua, tidak ditemukan lagi kegiatan memetik, memintal, hingga mewarnai benang kecuali pada pembuatan kain tenun ikat. Bahan baku benang yang merupakan produksi pabrik membuat tiga tahap awal pengerjaan kain tenun terpangkas langsung pada kegiatan menghani.
Menurut penuturan para penenun di Desa Poto dan Desa Moyo Mekar, akses terhadap benang pabrik secara leluasa mulai terjadi pada sekitar tahun 1992-1994. Benang tersebut diperoleh baik dari Sumbawa sendiri atau dari Kota Mataram. Jenis-jenis benang yang biasa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kain tenun pada dasarnya dibedakan menjadi tiga jenis yakni benang katun mercerized (mercerized cotton), benang katun kombed (combed cotton), serta benang katun kardet (carded cotton)[1]. Benang katun mercerized merupakan jenis benang katun yang dihasilkan melalui proses merserasi. Proses tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan benang yang lebih kuat, lebih berkilau, tidak mudah menyusut, tidak mudah berjamur, serta lebih mudah menyerap zat pewarna kain. Benang katun kombed merupakan jenis benang dari serat kapas lembut yang diproses secara khusus sebelum dipintal lebih lanjut menjadi sebuah benang. Dibandingkan dengan benang katun biasa, katun ombed umumnya dijual dengan harga yang jauh lebih mahal. Tekstur bahannya pun terbilang sangat lembut dan sangat nyaman di kulit. Benang katun kardet diperoleh dari kapas yang telah disiapkan untuk dipilin (spinning) menjadi benang. Carding merupakan langkah penting yang wajib dilakukan dalam proses pengolahan tekstil agar biji dan kotoran yang melekat pada kapas dapat dihilangkan dengan mudah. Tanpa carding benang yang dihasilkan akan terkesan kasar dan rapuh. Dalam konteks kerajinan tenun Sumbawa, baik tenun ikat maupun songket Kere Alang, jenis benang yang biasa digunakan ialah benang mercerized dan benang katun merek Putra, Yamalon, atau Rayon.
Kain songket adalah kain yang ditenun dengan hiasan menggunakan benang emas, perak atau benang berwarna lainnya dan untuk menambah benang hiasan itu memakai cara mengangkat dan menyungkit beberapa helai benang lungsi lalu disisipkan benang tambahan di antara rongga jalinan benang pakan dan lungsi[2]. Berdasarkan pengertian ini maka cara menenun kain songket pada dasarnya terdiri dari dua tahap. Tahap pertama ialah menenun kain dasar dengan konstruksi rata atau polos untuk selanjutnya menenun bagian ragam hias yang merupakan bagian tambahan dari benang pakan. Cara menenun seperti ini disebut Inlay Weaving System. Benang tambahan biasanya berbeda warna bahkan berbeda ukuran benang dan bahan seratnya. Perbedaan inilah yang menyebabkan ragam hias pada kain songket terlihat menonjol dan dapat segera terlihat karena berbeda dengan tenun latarnya.
Tim Penyusun Penelitian Kain Songket Sumbawa (1998:20) menyatakan bahwa tenunan songket Sumbawa biasanya memakai kain latar berwarna merah, biru, dan hitam dari benang yang berasal dari serat kapas dan bahan katun. Tenunan dasar yang merupakan konstruksi anyaman polos atau datar diperoleh dengan cara mengangkat dan menurunkan benang secara bergantian dengan irama 1 - 2 atau 1 - 3 dan 2 - 4. Untuk mendapatkan kain latar yang agak tebal seperti yang nampak pada kain Sumbawa biasanya benang pakan digandakan sesuai kebutuhan. Hasil survey pada 15 Juni 2019, merujuk pada penuturan Ibu Aminah Latief selaku Ketua Asosiasi Penenun Tradisional Samawa, bahwa untuk menghasilkan kain tenun yang berkualitas bagus setidaknya dibutuhkan 2 - 3 benang pakan. Bahkan, di Dusun Samri ada yang menggunakan hingga enam pakan. Teknik menenun yang digunakan oleh para penenun kain Sumbawa lazim dikenal sebagai teknik supplementary weft, mengangkat benang lungsi memakai lidi-lidi yang mana tingkat kerumitan dan kekayaan ragam hias ditandai dengan jumlah lidi yang digunakan: semakin banyak jumlah lidi maka semakin rumit dan semakin kaya ragam hias yang dituangkan di atas kain tenun.
Saat melaksanakan kegiatan pengkajian pada 24-26 Juni 2019, tim yang berjumlah 7 orang membawa serta 50 buah foto koleksi kain songket Kere Alang milik Museum Negeri NTB. Tujuannya ialah sebagai bahan pembanding dengan koleksi Kere Alang terkini yang masih diproduksi oleh sentra kerajinan yang ada. Dari hasil pengamatan baik pada proses pembuatan hingga ke bentuk kain yang sudah jadi, tim menemukan hal yang dianggap krusial terkait pewarisan proses pembuatan oleh para penenun. Pertama, terdapat beberapa motif yang tidak lagi dibuat oleh para penenun. Kemungkinannya adalah bahwa motif tersebut merupakan stilisasi atau motif lama yang tidak dikenali, atau dalam konteks ragam hias, motif tersebut hanya cocok diterapkan dalam ragam hias tertentu. Dari perspektif komersil, mengingat bahwa kain yang dijual merupakan pesanan orang (on demand) bisa jadi motif yang dibuat ialah yang berdasarkan pesanan semata sehingga motif-motif lama yang bernilai estetika tinggi sengaja dikesampingkan demi memenuhi kebutuhan pasar. Pengakuan dari Ibu Nurmayanti (30), motif maupun ragam hias yang ia buat murni merupakan keinginan pembeli. Biasanya, pembeli memperoleh referensi motif (semacam katalog) dari hasil berbagi di media sosial. Atas dasar itu, pembeli kemudian menentukan warna dasar kain, warna motif, jenis motif, termasuk ragam hiasnya.
Kedua, terdapat degradasi motif dan ragam hias. Hal ini dinyatakan mengingat tidak ditemukan kain songket Kere Alang produksi terkini yang menyamai kerumitan dan kekayaan ragam hias Kere Alang Koleksi Museum Negeri NTB sebagaimana yang ditunjukkan kepada para penenun saat kegiatan pengkajian berlangsung. Penurunan kualitas ini menyangkut banyak aspek yang pada dasarnya penting untuk dipertahankan. Misalnya pada motif pusuk rebong (motif tumpal) dari Dusun Senampar yang kerapatan dan bentuknya menurut H. Hasanuddin lebih mirip dengan kreasi Kere Alang Sukarara dibandingkan dengan dimensi dan lekuk rinci yang seharusnya mengakar pada pusuk rebong khas Kere Alang Sumbawa. Kemudian, kesan anggun dan penuh misalnya pada Kere Alang Sasir yang kini mulai berkurang jumlah motif dan kerumitannya. Perihal ini, H. Hasanuddin menganggap bahwa pemberian motif pada seluruh bidang kain bertujuan untuk menghasilkan kesan ramai dan meriah, dan biasanya jenis ragam hias ini dihasilkan oleh para penenun dari desa (suburban Kesultanan Sumbawa tempo dulu).
Penurunan kualitas motif maupun kerumitan ragam hias secara tidak langsung diakui oleh para penenun. Saat ditunjukkan kelima puluh foto koleksi Kere Alang Museum Negeri NTB, beberapa penenun di Desa Poto berujar bahwa sebagian besar motif yang ditunjukkan masih tetap diproduksi. Hanya saja, kerumitan ragam hias yang serupa dengan Kere Alang Koleksi Museum Negeri NTB sudah tidak ditemukan lagi. Para penenun pada kondisi terkini lebih banyak memproduksi ragam hias yang lebih “sederhana” dalam artian kuantitas motif yang dituangkan dalam satu bidang kain lebih sedikit sehingga berpengaruh terhadap ragam hias kain secara keseluruhan. Ada semacam gap, jeda panjang yang memisahkan antara Kere Alang produksi lama, katakanlah sebelum tahun 2000 dengan Kere Alang yang diproduksi di sentra-sentra kerajinan yang masih aktif hingga kini. Perlu kajian lebih lanjut untuk memahami faktor yang mendasari perbedaan kualitas estetik tersebut. Apakah ini sejalan dengan hipotesis perihal regenerasi yang mandek di sentra kerajinan tertentu? Ataukah ini pengaruh dari masa produksi serta nilai jual yang sering tidak menutupi kebutuhan sehari-hari penenun? Terdapat banyak kemungkinan yang dikumpulkan oleh Tim baik pada saat survey maupun pada saat pengkajian. Hanya saja dugaan-dugaan yang telah diinventarisasi ini harus dibuktikan melalui penelitian tersendiri mengingat aspek degradasi motif dan ragam hias merupakan temuan yang paling kontras dalam kegiatan pengkajian kain Sumbawa.
Ketiga, tidak ditemukan lagi penenun yang membuat Kere Alang dengan benang jit tahan uji. H. Hasanuddin menuturkan bahwa jenis songket ini sudah tidak diproduksi lagi. Info dari kakak Sultan, terakhir abdi istana menyulam songket jit tahan uji pada sekitar tahun 1960-an. Jarumnya dari perak/emas muda bengkok juga tidak lagi ditemukan. Museum Negeri NTB memiliki belasan koleksi Kere Alang yang disulam dengan benang jit tahan uji. Jika mengikuti informasi dari H. Hasanuddin di atas perihal periode terakhir penggunaan benang pipih ini, maka dapat diduga bahwa koleksi-koleksi Kere Alang jit tahan uji milik Museum Negeri NTB berusia setidaknya lima puluh tahun ke atas.
Perkembangan Motif
Bila ditilik dari aspek terciptanya motif baru, perkembangan motif pada kain songket Kere Alang tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Namun bila dilihat berdasarkan aspek stilisasi terhadap motif-motif yang sudah ada, maka perkembangannya terhitung pesat. Pada saat survey (14-16 Juni 2019), Tim awalnya mendengar penuturan dari penenun di Desa Poto serta Moyo Mekar perihal kemunculan motif-motif baru seperti Kemang Pona, Jajar Kemang Baleno, motif Kupu-Kupu, huruf S, Gili Liyuk, serta motif Istana Dalam Loka. Namun pada tahap selanjutnya, setelah melalui triangulasi data baik berdasarkan kajian pustaka/koleksi, wawancara dengan budayawan, maupun wawancara dengan penenun lainnya, diketahui bahwa pengakuan dari para penenun tersebut tidak seluruhnya tepat. Terdapat penjelasan yang mendasari penamaan motif oleh para penenun. Namun sebelum membahas hal itu, berikut dijelaskan klasifikasi motif yang lazim diterapkan pada kain songket Sumbawa.
Pertama, motif-motif dasar pada kain songket Sumbawa ialah motif dari nama dan sifat tumbuhan (kemang setange, lonto engal, pusuk rebong, dan wapak). Kemang Setange artinya bunga setangkai. Satange dianalogikan sebagai keberadaan tuhan yang satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa, penguasa alam semesta, dan cara pandang manusia kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Anggilan, 2014:4). Motif ini merupakan hipernim dari bunga-bunga setangkai dengan berbagai macam penamaan. Dengan demikian, seperti diutarakan oleh H. Hasanuddin, motif-motif seperti kemang pona, kemang kedele, kemang menir dan bunga setangkai lainnya pada dasarnya merupakan hiponim dari motif kemang setange. Yang terjadi dalam konteks ini ialah bahwa penenun menciptakan motif bunga baru yang merupakan varian dari kemang setange, namun kemudian dinamai sesuai dengan nama varian tersebut.
Lonto engal merupakan tanaman merambat di tanah dan berumbi yang banyak tumbuh di dataran Sumbawa. lonto engal memiliki sifat yaitu dahan dan rantingnya merambat kesana kemari untuk pertumbuhan umbinya. Masyarakat Sumbawa memandang motif lonto engal sebagai simbol falsafah hidup orang Sumbawa yang bebas pergi kemana saja untuk menuntut ilmu atau berniaga dan hasilnya untuk kesejahteraan daerah Sumbawa (1998:24). Pusuk rebong adalah tunas bambu yang dimanfaatkan sebagai sayur. Apabila sudah besar, tunas itu akan menjadi batang bambu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Penggunaan pusuk rebong sebagai ragam hias mengandung makna bahwa orang Sumbawa dalam menjalani kehidupannya diharapkan bisa berguna bagi masyarakat dan lingkungannya.
Kedua, motif dari nama makhluk hidup. Nama-nama motif yang berasal dari makhluk hidup seperti manusia dan binatang yang dibuat menyerupai bentuk aslinya dan juga yang telah digayakan (stilisasi) sehingga mirip dengan motif-motif yang berasal dari nama tumbuhan. Motif-motif tersebut ialah piyo (burung), naga, manusia (nenek moyang), kerbau dan buraq (binatang yang dilukiskan berkepala manusia dan berbadan hewan).
Ketiga, motif dari nama benda mati. Pemahaman masyarakat Sumbawa mengenai alam tidak terbatas pada tumbuhan dan makhluk hidupnya, akan tetapi benda-benda lain juga diangkat oleh para penenun sebagai motif hias pada kain songketnya. Motif-motif tersebut adalah motif cepa, selimpat, dan gelampok. Cepa berasal dari kata cep (bahasa Sumbawa) yang artinya motif lepas yang bisa diterapkan pada bidang kain secara serampangan (1998:25). Motif cepa berbentuk bunga bersudut delapan dan umumnya dipakai di kalangan istana. Keberadaan motif cepa di Sumbawa menunjukkan adanya pengaruh Hindu. Jumlah sudut delapan merupakan simbolisasi dari delapan sifat kepemimpinan yang berpedoman pada konsep Astabrata. Di samping bunga bersudut delapan, motif cepa pada kain songket Sumbawa juga memakai motif hias lainnya seperti kemang setange, piyo, dan lain sebagainya.
Penelitian yang dilakukan oleh Kusumastuti di Dusun Senampar pada tahun 2016 menunjukkan bahwa antara tahun 2010-2015 di Dusun Senampar mulai muncul motif-motif yang dianggap sebagai motif-motif baru. Keenam motif tersebut ialah motif kemang setange beru, motif bintang kesawir, motif lasuji kemang sasir, motif cepa beru 1, motif cepa beru 2, serta motif jajar kemang baleno. Keenam motif tersebut merupakan pengembangan dari motif-motif yang sudah ada sebelumnya.
Perbedaan Kemang setange beru dengan kemang setange terletak pada bentuk bunga setangkai dan lasuji yang berbentuk hati bersudut delapan. Motif kemang setange beru muncul tidak lama setelah Pemerintah Daerah Sumbawa menetapkan Festival Moyo yang mewajibkan para tamu undangan untuk hadir menggunakan kain songket Kere Alang. Motif bintang kesawir, sesuai namanya, mengambil inspirasi dari bintang yang bertebaran di langit. Menurut pengakuan Ibu Sahela selaku penenun yang mengembangkan motif ini, bintang kesawir bersumber dari referensi yang ia dapatkan dari internet yang kemudian diolah dan dipadukan dengan motif pendukung. Saat penelitian oleh Kusumastuti, motif bintang kesawir saat itu dituangkan pada kain selendang saja.
Bila dicermati, motif bintang kesawir secara geometris tidak jauh berbeda dengan motif cepa bersudut delapan atau motif bintang yang sudah ada sebelumnya. Motif-motif yang ada pada koleksi Kere Alang Museum Negeri NTB menunjukkan hal tersebut. Perbedaan utamanya mungkin terletak pada sudut yang berjumlah dua belas, keberadaan cepa di bagian tengah motif, serta hadirnya semacam tangkai pada sisi kanan dan kiri motif.
Motif lasuji kemang sasir merupakan motif berikutnya yang mengkreasikan ulang posisi lasuji dalam bidang Kere Alang. Jika sebelumnya dalam Kere Alang Sasir lasuji merupakan motif pendukung, oleh para penenun posisinya dinaikkan menjadi motif utama dengan didukung oleh motif cepa. Pada kombinasi ini motif terbentuk dari susunan motif lasuji (belah ketupat) yang secara menyeluruh di permukaan kain ditambah dengan motif cepa di tengah-tengah motif lasuji.
Untuk motif cepa beru, terdiri atas motif cepa beru 1 dan 2. Motif ini berdasarkan hasil penelitian Kusumastuti (2016:75) muncul ketika penenun mencoba mengkreasikan bentuk baru dengan referensi yang ia dapatkan melalui internet. Motif cepa beru hadir dari adanya permintaan konsumen yang ingin memiliki motif yang berbeda dengan yang lainnya. Dalam motif ini, penenun menggabungkan dua motif cepa dengan bentuk yang berbeda yaitu cepa kwari dan cepa gelampok. Sebagai pembatas pada bagian alu, penenun mengkreasikan motif pusuk rebong yang kemudian diolah dengan bentuk dan ukuran yang berbeda dengan bentuk aslinya.
Pada motif jajar kemang baleno, penenun mencoba menggabungkan antara motif bunga dengan motif lasuji. Perbedaannya dengan motif jajar kemang baleno yang sudah ada sebelumnya terletak pada ukuran motif lasujinya yang lebih lebar dan panjang, jarak antarmotifnya yang lebih rapat serta penambahan isen-isen pada seluruh bagian kain. Menurut Kusumastuti (2016:82), motif ini dibuat berdasarkan kreativitas penenun belum lama semenjak permintaan pasar terhadap kain tenun kere alang meningkat.
Kesimpulan yang dikemukakan oleh Kusumastuti terkait perkembangan motif Kere Alang di Dusun Senampar pada tahun 2010-2015 ialah bahwa motif-motif tenun sebelum tahun 2010 banyak menggunakan objek flora dan fauna yang tersusun geometris dengan menambah motif pendukung yang sederhana, sedangkan antara tahun 2010-2015 cenderung menggunakan motif flora yang sudah ada dan hanya mengubah beberapa bagian dari motif sebelumnya namun tetap tersusun secara geometris. Diantaranya ialah motif lasuji yang umumnya berbentuk belah ketupat diubah menjadi bentuk menyerupai simbol hati. Dengan demikian, Kusumastuti menyatakan bahwa perkembangan motif di Dusun Senampar pada tahun 2010-2015 tidak terlalu signifikan (2016:87). Perkembangan yang nyata terlihat hanya pada perubahan bentuk motif dan perubahan penempatan posisi motif dari posisi yang sudah ada sebelumnya (motif cepa beru dan kemang baleno).
Saat berkunjung ke Dusun Senampar pada 26 Juni 2019, Tim Pengkajian menemukan bahwa perkembangan motif tersebut memang benar adanya, bahkan berkembang lebih jauh lagi. Tim menemukan bahwa selain keenam motif tersebut, para penenun di Dusun Senampar telah mulai memproduksi motif baru yakni motif Istana Dalam Loka, yang untuk sementara ini baru diterapkan pada Sapu Alang. Antusiasme para penenun di dusun ini bisa jadi didukung oleh dua faktor utama yakni keberadaan APDISA dan akses dunia maya yang terbuka lebar. APDISA yang berpusat di Desa Poto telah menjadi semacam katalis bagi kelahiran kembali semangat para penenun untuk memajukan kain Sumbawa khususnya kain songket Kere Alang. Gairah tersebut dapat terlihat dari rencana kerja APDISA yang bertujuan untuk menghimpun kembali para penenun yang tersebar di berbagai desa di Kabupaten Sumbawa, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tenun, hingga menciptakan galeri di titik-titik tertentu yang menghimpun hasil-hasil tenun karya para penenun untuk dipamerkan dan diperjualbelikan. Di sisi lain, terbukanya akses kepada internet khususnya media sosial telah menghadirkan laju informasi yang tidak terbatas kepada para penenun mengenai banyak hal, tidak terkecuali perkembangan tenun secara global. Para penenun jadi mudah berinteraksi dengan para calon pembeli, penenun dapat pula dengan mengakses berbagai macam sampel motif dari seluruh belahan dunia yang sekiranya dapat dituangkan sebagai motif baru di di atas kain tenun.
Dibandingkan dengan motif maupun ragam hias yang terkandung pada koleksi-koleksi songket Kere Alang milik Museum Negeri NTB, motif maupun ragam hias yang muncul belakangan khususnya pada sentra kerajinan tenun kain songket Kere Alang yang dikunjungi pada saat kegiatan pengkajian berlangsung dapat dikatakan mengalami pertumbuhan. Dari sekian banyak motif yang ditemukan pada saat kegiatan pengkajian, hanya beberapa saja yang diidentifikasi sebagai motif yang tidak dimiliki oleh Museum Negeri NTB, yang berarti dari rentang waktu 1980-an saat Kegiatan Pengadaan Koleksi dilaksanakan hingga tahun ini, memang tercipta beberapa motif baru. Gili Liyuk misalnya, meskipun dikelompokkan oleh Kusumastuti sebagai motif yang telah ada sejak sebelum 2010, namun tidak ditemukan pada koleksi-koleksi Museum Negeri NTB. Tim tidak berani menyimpulkan bahwa motif ini ada setelah dekade 1990-an, sebab dari penuturan para penenun pun tidak ditemukan angka tahun pasti asal mula keberadaan motif ini. Penenun hanya menyatakan bahwa motif ini tergolong sebagai motif lama.
Motif Kengkang Badayung yang menyimbolkan binatang laba-laba, meskipun belum teridentifikasi keberadaannya pada koleksi Museum Negeri NTB, memiliki kedekatan dengan motif kepiting (bukang). Perbedaannya terletak pada kejelasan penggambaran yang mana motif kepiting pada koleksi Museum Negeri NTB digambarkan secara eksplisit, bukan stilisasi. Ini berbeda dengan kengkang badayung yang merupakan motif geometris yang diletakkan di dalam pola lasuji.
Dua kasus di atas sama halnya dengan beberapa motif yang dianggap sebagai motif baru seperti kemang pona, kemang menir, kemang kedele, yang bila merunut pada penjelasan sebelumnya dapat diidentifikasi sebagai motif kemang setange. Artinya, perkembangan motif tersebut secara kebaruan muncul pada pilihan bunga setangkai yang ditampilkan, sedangkan jenis atau klasifikasinya masih berada pada kelompok yang sama. Adapun untuk motif kupu-kupu ataupun huruf S sebagaimana yang ditemukan di Dusun Bekat Desa Poto, pada dasarnya telah ada sejak dahulu. Hanya yang berkembang adalah penamaannya di kalangan penenun. Stilisasi pada motif selimpat serta kemang setange pada bagian ujung motif memang menghasilkan bentuk seperti huruf S, yang secara estetika terlihat bagus. Pada saat kunjungan pada tanggal 25 Juni 2019, Ibu Aslinda selaku penenun mengaku belum tahu nama motif yang tepat untuk kreasinya tersebut sehingga memilih untuk menyebutnya sebagai motif huruf S saja.
Untuk motif kupu-kupu, sebagaimana namanya, memang mirip seperti kupu-kupu. Motif ini dikreasikan dari cepa yang diputar 45o sehingga secara geometris membentuk sudut yang sama seperti morfologi kupu-kupu. Dari yang disampaikan kepada tim, diketahui bahwa motif ini baru dikreasikan sekitar tiga bulan. Motif kupu-kupu diletakkan sebagai bagian dari ragam hias pada bidang kain yang didalamnya juga terdapat cepa, kemang setange, serta motif huruf S.
Yang benar-benar baru dari motif kain songket Sumbawa ialah motif Istana Dalam Loka. Motif ini ditenun pada selembar Sapu Alang oleh penenun dari Dusun Senampar, Desa Sebewe Kecamatan Moyo Utara. Motif ini berdiri sendiri pada bidang kain yang berwarna hitam. Warnanya diperoleh dari benang songket berwarna emas. Karena ingin menonjolkan bangunan istana sebagai motif utama, bidang kain tempat motif ini terkesan kosong dari motif lain. Penenun dari Dusun Senampar masih dalam tahap uji coba terhadap motif ini. Jika diminati oleh para calon pembeli, bisa jadi motif Istana Dalam Loka akan dituangkan pula ke atas kain songket Kere Alang.
Secara umum, terdapat perbedaan yang cukup terlihat antara kain Kere Alang koleksi Museum Negeri NTB dengan kain songket Kere Alang terkini yang didapati pada sentra-sentra kerajinan yang dikunjungi dalam kegiatan pengkajian:
- Bidang kain pada koleksi Museum Negeri NTB lebih rapat dengan beraneka motif;
- Motif makhluk hidup digambarkan dengan lebih eksplisit. Motif kepiting misalnya, morfologinya digambarkan mendekati lekuk aslinya dengan sudut-sudut yang halus, berbeda dengan katakanlah motif bukang marege atau motif kengkang badayung yang berbentuk stilisasi dan memiliki sudut yang kaku dan lancip;
- Terdapat beberapa motif makhluk hidup yang tidak ditemukan dan menurut beberapa penenun tidak dibuat lagi seperti motif menjangan (rusa), motif ikan, motif naga, dan motif kerbau;
- Jika berpedoman pada teknik supplementary weft yang mana kerumitan dan kekayaan ragam hias ditandai dengan banyaknya jumlah lidi yang digunakan untuk mengangkat benang lungsi serta hasil akhir berupa kerapatan dan kepadatan bidang kain, maka Kere Alang koleksi Museum Negeri NTB dapat dinyatakan lebih rumit dan lebih kaya dengan ragam hias dibandingkan dengan Kere Alang hasil tenunan terkini;
Terakhir, dari aspek pemasaran terdapat beberapa metode penjualan yang digunakan oleh penenun dalam rangka memasarkan hasil tenunannya. Pertama, cara konvensional yakni pembeli mendatangi penenun untuk membeli kain yang sudah jadi (stok barang) atau memesan kain tenun berdasarkan keinginan masing-masing pembeli. Kedua, pembeli memesan secara online. Keberadaan media sosial tidak dipungkiri telah memangkas jarak dan waktu yang dibutuhkan oleh pembeli dan penenun untuk saling bertransaksi. Dusun Senampar dapat menjadi contoh model interaksi online yang mana pembeli memesan kain dengan referensi dari internet/teman sejawat yang kemudian ditunjukkan secara online pula kepada penenun untuk dibuatkan. Jika penenun sanggup dan setelah model serta harga disepakati, maka penenun pun mulai mengerjakan pesanan tersebut. Ketiga, dengan sistem arisan. Pembeli membayar kain yang dibelinya setiap bulan. Keempat, melalui galeri atau bazaar-bazaar tertentu. Beberapa event budaya semisal Festival Moyo menghadirkan pangsa pasar yang cukup besar bagi distribusi kain tenun. Permasalahan yang mengemuka di para penenun adalah belum tersedianya galeri yang representatif sebagai tempat memajang dan menjual kerajinan dari para penenun. Juga, pelaksanaan event-event budaya yang tidak selalu menyediakan stand/booth tempat berjualan menjadikan komersialisasi kain tenun baik pelekat, tenun ikat, maupun kere alang menjadi tidak optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
- Perkembangan kain tenun songket kere alang mengalami pasang surut yang dinamis. Sempat mundur pada dekade 1960-an, pemerintah daerah pada sekitar tahun 1974 menginisiasi pelatihan-pelatihan tenun pada beberapa desa diantaranya Desa Simu, Poto, Alas, dan Alas Barat.
- Mudahnya akses terhadap benang pabrik pada sekitar tahun 1992 membuat beberapa proses praproduksi yang berhubungan dengan kapas mentah menjadi hilang. Penenun bisa langsung memulai pada proses menghani benang. Adapun pada kain tenun ikat, proses pewarnaan dengan bahan alam mulai tergantikan oleh pewarnaan dengan pewarna tekstil (wantex).
- Untuk membuat selembar kain tenun ikat dibutuhkan waktu sekitar 15 hari dan dijual pada kisaran harga Rp. 500 ribu, sedangkan kain songket kere alang proses pembuatannya memakan waktu antara tiga minggu hingga 1 bulan setengah dan dijual dengan rentang harga 1,5 – 2 juta Rupiah.
- Para penenun di kabupaten Sumbawa lebih memilih menggunakan alat tenun gedogan daripada ATBM karena dianggap lebih mudah digunakan serta menghasilkan lebih banyak jenis kain (peleket, tenun ikat, kere alang).
- Aspek kebaruan pada kain tenun Sumbawa cenderung pada aspek stilisasi motif. Adapun motif baru yang dapat diafirmasi ialah motif Istana Dalam Loka.
- Pada kain songket kere alang terdapat beberapa motif yang tidak ditemukan, entah sudah tidak dibuat lagi atau memang tidak ada pembeli yang memesan seperti motif menjangan (rusa), motif ikan, motif naga, dan motif kerbau.
- Dimensi serta ciri morfologis pada motif makhluk hidup kere alang lama koleksi Museum Negeri NTB lebih ekplisit dan lebih halus dibandingkan pada produksi kere alang terkini.
- Untuk ragam hias, harus diakui bahwa tingkat kerumitan dan estetika yang melekat pada kain-kain songket kere alang koleksi Museum Negeri NTB berada di atas kualitas produksi terkini.
- Pemasaran kain songket kere alang maupun tenun ikat biasanya dilakukan dalam empat cara yakni bertemu langsung, jual beli online, arisan, serta pada saat festival/bazaar.
Saran
Pengkajian koleksi kain tenun Sumbawa ini hanyalah salah satu dari sekian banyak penelitian yang seharusnya dilakukan dalam rangka pemertahanan budaya dan adat istiadat masyarakat. Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memahami khususnya jurang kualitas antara kere alang lama dengan kere alang baru. Dibutuhkan juga peran serta yang maksimal dari para pemangku kebijakan terkait regenerasi penenun mengingat usia para penenun yang ditemui pada saat kegiatan pengkajian ialah rata-rata 50 tahun ke atas. Dari aspek pemasaran, yang sangat dibutuhkan oleh para penenun ialah pusat penjualan atau galeri setidaknya 1 di masing-masing desa. Kemudian, perlunya digital marketing dalam rangka memangkas jarak pemasaran sehingga pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kain tenun Sumbawa semakin meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Anggilan, Eva Vera. 2014. Analisis Simbol pada Motif Kere Alang (Kain Tradisional Sumbawa) di Dusun Samri Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir: Suatu Pendekatan Folklore. Artikel E-Journal. Mataram: Universitas Mataram
Danni, Gufron Wahyu. 2013. Nilai Simbolis Seni Kelingking Kain Songket Sumbawa. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Giri, Edin Suhaidin Purnama. 2004. “Ragam Hias Kreasi”. Catatan Kuliah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Herman V.J. dan Alit Widiastuti. Tanpa Tahun. Seni Ragam Hias pada Kain Tenun Koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan Dedpdikbud: Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Kemenaker RI. 2015. Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 459 Tahun 2015 Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Industri Pengolahan Golongan Pokok Industri Tekstil Bidang Tenunan Tradisional.
Kusumastuti, Arum. 2016. “Perkembangan Kerajinan Tenun Songket Kere’ Alang Dusun Senampar, Sebewe, Moyo Utara, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat Tahun 2010-2015”. Artikel E-journal. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Moleong, Lexy J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Kencana.
Tim Penyusun. 1986. Laporan Survai Pengadaan Koleksi di Kabupaten Sumbawa. Depdikbud: Proyek Pengembangan Permuseuman NTB Tahun Anggaran 1983/1984.
Tim Penyusun. 1986. Laporan Survey Pengadaan Koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat di Kabupaten Sumbawa. Depdikbud: Proyek Pengembangan Permuseuman NTB Tahun Anggaran 1985/1986.
Tim Penyusun. 1991. Seni Ragam Hias pada Kain Tenun. Direktorat Jenderal Kebudayaan Dedpdikbud: Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Tim Penyusun. 1998. Penelitian dan Pengolahan Data Aspek Kebudayaan: Penelitian Kain Songket Sumbawa Koleksi Museum Negeri Propinsi NTB. Mataram: Museum Negeri Propinsi NTB.
Tim Penyusun. 2000. Kre Polak Desa dan Adat Tau Samawa. Mataram: Depdiknas Kanwil Propinsi NTB Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman NTB.
Van den Berg, L.W.C. 2010. Orang Arab di Nusantara (Terjemahan Rahayu Hidayat). Jakarta: Komunitas Bambu.
Sumber Internet:
https://ilmuseni.com/seni-rupa/pengertian-ragam-hias, diakses pada 29 Mei 2019 pukul 9.12 Wita
https://www.sumbawakab.go.id/seni-rupa.html, diakses pada 29 Mei 2019 pukul 10.04 Wita
http://clipart-library.com/images/ki85oneeT.jpg (meander)
http://1.bp.blogspot.com/-xskdklxJAuw/Vi-VEFWe4MI/AAAAAAAAC_Y/cs_JLPHvipM/w1200-h630-p-k-no-nu/Swastika.JPG
http://4.bp.blogspot.com/-vnuyhlc24T4/Vi-OHhaxGqI/AAAAAAAAC_I/T4zBU-bzapw/s1600/Banji.jpg
https://grahabatik.com/wp-content/uploads/2019/03/34-Terindah-Motif-Batik-Tumpal-Istimewa-Banget.jpg
https://infobatik.id/wp-content/uploads/2017/09/batik-parang-1.jpg
https://hello-pet.com/assets/uploads/2016/09/Batik-Ciamis.jpg
https://www.liputan6.com/news/read/2881372/pekojan-saksi-bisu-kedatangan-bangsa-arab-di-nusantara?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F
