Museum Desa, ‘Bangunan Hidup’ Sejarah Lokal

2024-12-16

Khairul Anwar

Anggota Dewan Kebudayaan Daerah NTB / Wartawan Senior

Museum tidak harus berada di ibu kota provinsi dan kabupaten/kota, melainkan mestinya ada di desa, karena peninggalan, warisan, dan pusaka itu umumnya dikoleksi oleh masyarakat desa. Mau pusaka ragawi: keris, alat pertanian dan penangkap ikan tersedia, pusaka tak ragawi (masjid, rumah ada), pusaka saujana (lapangan, sawah) hingga pusaka alam (sumber mata air), ada di desa.

Ruangannya tidak perlu luas, cukup 4 x 4 meter sudah cukup untuk menampung koleksi dari yang terkenal hingga yang lokal. Kemudian soal teknis seperti cara mengatur dan display koleksi, museum desa bisa bernaung di bawah Museum Negeri yang sekaligus membantu menarasikan sebagai story telling agar ‘benda mati’ di dalamnya bisa ‘bicara’.  Dengan demikian, ruang atau bangunan fisik museum adalah ‘bangunan hidup’ sebagai wadah terjalinnya proses pembelajaran sejarah yang berperan sebagai ‘api’ penyemangat masyarakat mengembangkan desa dalam ranah edukatif.

Niatan membangun museum desa itu agaknya yang sedang dirintis oleh Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, yang menggelar Festival Museum Desa, Pameran Pusaka Desa, untuk kedua kalinya bersamaan dengan acara Pujawali Perang Tepat di Pura Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Lombok Barat, hari Minggu (15/12/2024). Pameran itu merupakan program strategis museum itu bertajuk ‘Kota-ku Museum-ku, Kampung-ku Museum-ku’.

Menurut Ahmad Nuralam, Kepala Museum Negeri NTB, sebanyak delapan desa dari desa yang diundang di Kecamatan Lingsar dan Narmada mengikuti pameran ini. Yang dipamerkan antara lain peralatan pertanian, topeng, meski didominasi keris, tumbak, dan manuskrip. Para peserta dilombakan dan diberi stimulan berupa uang pembinaan bagi penampil terbaaik, Rp 5 juta, juara II Rp 4 juta, juara III Rp 3 juta, dan juara harapan satu hingga tiga meraih masing-masing Rp 1,5 juta.

Pemilihan lokasi pameran bisa dipahami, sebab Kecamatan Lingsar dan Narmada memiliki kekayaan seni budaya dan pusaka saujana.  Dulu, ada seni teater Amaq Darmi yang merupakan akultrasi dan asimilisi budaya lokal dan Bali, meski teater tradisi sudah punah. Kemudian ada lokaso Kemalik yang berdampingan dengan Pura Lingsar, merupakan salah satu sumber mata air bagi penduduk dan irigasi sawah penduduk dua kecamatan itu.

Karena itulah, bagimana menjaga pusaka saujana agar tetap lestari dan bermanfaat kehidupan. Itu tersirat dari komentar Ahmad Nuralam tadi,bahwa ”pameran ini hanya salah satu cara, mendorong desa-desa agar melakukan pelestarian tinggalan sejarah masa lalu di desa,sehingga  paling tidak masyarakat tahu kalau tiap desa punya benda pusaka,” kata Nuralam. Komentar ini bisa diartikan, ada upaya merombak citra museum yang sering dianggap tempat angker, pengumpul ‘barang rongsokan, menjadi ruang publik yang edukatif dan inspiratif. Pameran ini pula sebatas mengingatkan memori kolektif dan romantisme masa lalu, melainkan juga melindungi, mengembangkan, memanfaatkan dan mengkomunikasikan koleksi itu kepada masyarakat.

Itu mengingat benda-benda tersebut merupakan pusat informasi dan dokumentasi warisan budaya yang berkontribusi terhadap pembangunan  masa depan bangsa dan negara secara berkelanjutan. Tinggalan-tinggalan itu juga menjadi benteng perlindungan dan sumber pengetahuan yang berharga untuk menyatukan komunitas, merajut benang waktu, merangkum sejarah desa dan masyarakatnya, serta memperkuat identitas kalangan warga desa.

Adanya Museum Desa mempermudah generasi muda seperti para siswa, yang mau merangkum sejarah desa, yang selama ini miksin data referensi sejarah lokal. Bahkan mereka ‘asing’ akan prestasi nenek moyangnya. Museum Desa juga dapat menjadi pemandu, pembuka labirin warisan dan sejarah lokal, yang narasinya biasanya dikaitkan dengan mitos dan legenda.

Bias narasi ini setidaknya dapat direduksi oleh keberadaan Museum Desa yang selain jadi sumber dokumentasi, informasi, dan pengkajian secara berkesimbangan, juga para siswa khususnya bisa belajar dan riset, seraya rekreasi menyaksikan benda-benda koleksi. Dengan demikian keberadaan museum yang dicitrakan angker dan tempat menyimpan barang tak berguna dapat ‘didaur ulang’ bahwa di balik dinding museum tersimpa ‘jejak-jejak peradaban’ sejarah dari masa ke masa. Ya di situlah ‘bangunan hidup’ sejarah lokal.



Sumber:
Kabarlagi (2024, 16 Desember). Museum Desa, ‘Bangunan Hidup’ Sejarah Lokal. Diakses dari Museum Desa, ‘Bangunan Hidup’ Sejarah Lokal - Kabarlagi.com