MUSEUM NEGERI NUSA TENGGARA BARAT DAN PERUBAHAN MUSEUM DI INDONESIA*

2025-03-08

Oleh: James Bennett | Adjunct Curator, West Nusa Tenggara State Museum.

Pada tanggal 21 September 2024, dalang wayang kulit Sasak yang terkenal, Lalu Nasib, mempersembahkan sebuah pertunjukan dari Serat Menak (Roman Menak) di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang berlokasi di Mataram, Lombok. Cerita ini menggambarkan konflik keluarga yang muncul ketika paman Nabi Muhammad, Raja Jayeng Rana (Amir Hamzah) memutuskan untuk turun tahta dan mewariskan tahtanya kepada putranya yang masih kecil, Maryunani. Banyak penonton yang menyadari bahwa tema lakon tentang pewarisan pengetahuan dan kekuasaan kepada generasi berikutnya sangat menyentuh pada kesempatan ini. Lalu Nasib, yang kini berusia 83 tahun dan baru-baru ini menderita stroke, adalah salah satu ahli wayang sasak terakhir yang saat ini bertahan sebagai tradisi teater hidup.

Lakon dimulai dengan adegan konvensional di mana para pelayan raja yang disebut punakawan, sedang bercakap-cakap. Kelompok abdi dalem ini dipimpin oleh Umar Maye, yang lebih dikenal di Jawa sebagai Semar yang digambarkan sebagai sosok yang bodoh dan di Bali sebagai dikenal sebagai Twalen. Lalu Nasib telah membuat karakterisasi mereka, termasuk dialog yang penuh dengan sindiran, menjadi ciri khas gaya pertunjukannya. Pada tahun 2015, penampilannya dalam memerankan karakter punakawan dianggap sangat keterlaluan sehingga Komisi Penyiaran Radio Nasional melarang siaran TV dari pementasannya karena dianggap 'terlalu dibumbui dengan referensi seksual' (https:// www.kpi.go.id/).

Namun demikian, gurauan di antara punakawan malam itu berubah menjadi serius ketika seorang dari mereka bertanya, “Apa itu museum?” Diskusi mereka selanjutnya melibatkan saling balas dengan jenaka dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo, yang digunakan di provinsi Nusa Tenggara Barat, serta Bahasa Indonesia. Akhirnya, para abdi dalem tersebut menyimpulkan definisi museum adalah tempat penyimpanan warisan budaya untuk generasi mendatang dan tempat untuk mempelajari budaya.

Lima puluh tahun yang lalu pada tahun 1975, ketika penulis drama terkenal Indonesia, W.S. Rendra, menulis Kisah Perjuangan Suku Naga, salah satu karakternya dengan nada meremehkan mengamati bahwa museum adalah tempat di mana kita 'memasukkan sisa-sisa budaya kita ke dalam kotak' (Rendra 1979:57). Tentu saja, selama beberapa dekade hal ini tampak seperti itu karena museum-museum di Indonesia mengalami pengabaian yang kronis akibat kekurangan dana dan kurangnya tata kelola yang profesional.

Serangkaian tragedi telah menghancurkan koleksi-koleksi warisan budaya Indonesia selama dua dekade terakhir. Ini termasuk pencurian patung-patung Hindu-Buddha dan benda-benda emas dari Museum Radya Pusaka Surakarta (2007) dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta (2010) serta kebakaran dahsyat di Museum Bahari nasional (2018) dan Museum Nasional Indonesia (2023) di Jakarta. Inventaris lengkap barang-barang yang hancur dalam kebakaran di Museum Nasional belum dipublikasikan. Namun, dilihat dari benda-benda yang rusak dan hilang di ruang pameran yang baru saja dibuka kembali, kobaran api menghanguskan beberapa karya sejarah terbaik Indonesia.

Namun demikian, transformasi positif sedang terjadi di sektor museum Indonesia sejak Rendra menulis penilaian pedas tersebut, meskipun dengan berbagai tingkat keefektifan di negara yang secara geografis sangat luas dan sosial yang beragam seperti Indonesia. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya ketersediaan studi kuratorial tingkat tinggi dan kerja sama antara museum pemerintah dan swasta, terutama di pedalaman Jawa dan Bali. Bagi kelas menengah Indonesia yang terus bertambah, karir di sektor budaya kini dipandang sebagai peluang kerja yang menarik.

Perubahan ini ditandai dengan perkembangan yang menarik di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat di Mataram, ibukota provinsi, di bawah kepemimpinan Ahmad Nuralam sejak tahun 2022 dengan dukungan dari staf yang antusias di sekelilingnya. Nuralam memiliki pemahaman yang mendalam tentang peran museum sebagai ruang untuk merayakan warisan budaya lokal. Tidak seperti tren populer di tempat lain di Indonesia dan di luar negeri di mana museum seni semakin mendefinisikan identitas mereka sebagai tempat hiburan, ia percaya bahwa museum seni adalah tempat untuk merayakan warisan budaya lokal. Museum Nusa Tenggara Barat dapat berkembang menjadi pusat penelitian yang unggul.

Koleksinya tidak banyak, hanya sekitar 7.000 benda, namun terkenal karena keunikannya di berbagai media seperti tekstil, patung, benda-benda arkeologi, dan budaya material. Baru-baru ini, Museum ini telah memulai proses digitalisasi koleksi naskah lontarnya yang penting secara internasional, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta. Ada program reguler yang dihadiri dengan baik berupa kuliah umum, seminar dan ceramah.

Alih-alih menekankan peran museum sebagai penjangkauan atau keterlibatan, istilah-istilah yang menyiratkan posisi istimewa, Nuralam lebih menekankan pentingnya membangun jejaring dengan seluruh lapisan masyarakat dari tempat penyimpanan benda-benda di desa hingga universitas dan penjaga koleksi kerajaan. Hal ini sangat relevan untuk Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu provinsi termiskin di Indonesia di mana sumber daya pemerintah sangat terbatas. Lebih jauh lagi, Nuralam tidak mengabaikan peran institusi ini sebagai ruang komunitas yang egaliter. Dia telah membuka fasilitas museum untuk berbagai macam kegiatan, mulai dari kelas mingguan dalam sastra klasik.

Aspek penting dari strategi Nuralam adalah promosi melalui media sosial yang dikelola oleh tim khusus Museum, yang mengarah pada peningkatan jumlah pengunjung harian (Febrian, 2024: 56). Media sosial sangat populer di Indonesia dan merupakan bentuk komunikasi yang menonjol di sektor museum di negara ini yang sayangnya tidak dapat diakses oleh rekan-rekan dari Australia karena rendahnya tingkat literasi Bahasa Indonesia.

Selama 18 bulan terakhir, Museum Nusa Tenggara Barat telah menandai tiga tonggak penting Yang pertama adalah menunjukkan kepercayaan diri untuk terlibat dalam debat nasional seputar pemulangan Harta Karun Lombok dari Belanda ke Museum Nasional Jakarta pada bulan November 2023. Pada tahun 1894, militer Belanda menyerbu Lombok Barat, menghancurkan istana Bali Ukir Kawi, yang diterjemahkan sebagai 'Ornamen Para Penyair', di Cakranegara. Mereka menjarah 230 kilogram emas dan 7.000 kilogram perak, serta ratusan karya seni yang tak ternilai harganya, yang kemudian dibawa ke Belanda (Historia ID 2023: 37).

Invasi ini dilakukan atas undangan kepala suku Sasak, yang kemudian digunakan sebagai dalih untuk mencaplok seluruh pulau ini secara paksa ke dalam wilayah Hindia Belanda. Saat ini, narasi Indonesia tentang perang ini berfokus pada penjarahan yang dilakukan oleh orang Eropa, tetapi hal ini dibantah oleh seorang saksi mata dari Inggris yang mencatat bahwa sekutu Sasak juga secara aktif terlibat dalam penjarahan istana Bali yang sangat kaya.

Pemulangan benda-benda seni dari masa lalu secara internasional tidak pernah menjadi proses yang sederhana dan selalu menimbulkan klaim kepemilikan yang diperdebatkan. Museum Nusa Tenggara Barat mengusulkan Harta Karun Lombok, atau sebagian darinya, untuk dipamerkan di Mataram. Kompleks Museum ini terletak hanya 8 km dari bekas situs istana Ukir Kawi yang diratakan secara sistematis oleh Belanda pada tahun 1894 dan sekarang menjadi distrik komersial yang padat.

Kritik yang paling keras terhadap proposal ini datang dari sebagian masyarakat Sasak setempat yang menyatakan bahwa pengembalian harta karun Bali akan membuka kembali luka lama antara masyarakat Sasak yang beragama Islam dan masyarakat Bali yang beragama Hindu. Saat ini, masyarakat Sasak masih menggambarkan orang-orang dari pulau tetangga Bali yang menetap di Lombok Barat 400 tahun yang lalu sebagai pendatang. Babad Praya mencatat bencana Konflik antara suku Sasak dan Bali pada tahun 1891-1894 terus menjadi teks yang tabu karena sensitivitas subjek di Praya, tempat peristiwa ini terjadi.

Museum ini juga menghadapi kendala birokrasi karena tidak terdaftar sebagai salah satu lembaga yang ditunjuk pemerintah yang memenuhi syarat untuk menyimpan harta karun nasional. Salah satu tantangannya adalah tidak adanya galeri permanen yang didedikasikan untuk pameran temporer. Kunjungan resmi ke Museum Nusa Tenggara Barat oleh Menteri Kebudayaan Indonesia yang baru saja dilantik, Dr Fadli Zon, pada tanggal 7 Januari 2025 setidaknya mencerminkan keseriusan pemerintah pusat untuk melihat lebih dekat tantangan-tantangan ini.

Kontribusi aktif museum dalam debat repatriasi merupakan pertama kalinya sebuah museum kecil di daerah menentang keputusan pemerintah pusat mengenai pengelolaan sektor cagar budaya. Kebijakan Jakarta terkadang menunjukkan sedikit kesadaran akan pendapat lokal. Museum Nasional tanpa ragu mengasumsikan haknya sebagai pengelola Harta Karun Lombok, meskipun pameran baru mereka di Jakarta baru-baru ini memiliki kesalahan dalam pelabelan yang menimbulkan keraguan akan asumsi tersebut. Lebih jauh lagi, hilangnya koleksi-koleksi di Museum Nasional dan Museum Bahari akibat kebakaran menimbulkan pertanyaan yang sangat nyata tentang tugas perawatan yang tepat.

Pencapaian kedua bagi Museum Nusa Tenggara Barat adalah diundangnya Museum Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu dari tiga institusi Indonesia yang akan berpartisipasi dalam Biennale Seni Islam Al-Diriyah ke-2 di Arab Saudi pada bulan Januari hingga Mei 2025. Dua lainnya adalah Museum Sonobudoyo (Yogyakarta) dan Perpustakaan Nasional (Jakarta), yang dipilih melalui konsultasi dengan masyarakat di Indonesia. Biennale ini menampilkan seni bersejarah bersama dengan karya-karya seniman Muslim kontemporer yang biasanya tidak terlihat pada acara semacam itu. Ketiga institusi Indonesia tersebut berpameran bersama sekitar 35 institusi lainnya termasuk Louvre (Paris), Victoria and Albert Museum (London), Museum Seni Islam (Doha), al-Sabah Collection (Kuwait), dan Calouste Gulbenkian Museum (Lisabon). Tempat-tempat spektakuler tersebut merupakan paviliun yang dirancang khusus yang terletak di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.

Partisipasi museum dalam Biennale ini sangat penting karena sejarah panjang seni Islam Indonesia yang diabaikan, atau hanya simbolis, dalam pameran internasional meskipun negara ini memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Partisipasi Indonesia membawa keragaman yang lebih besar daripada yang biasanya terlihat dalam pameran seni Islam, seperti wayang kulit Jawa Tengah yang menggambarkan sembilan orang suci perintis Islam di Jawa (wayang sadat).

Lokasi geografis Nusa Tenggara Barat yang terletak di antara Bali yang beragama Hindu dan pulau-pulau di bagian timur dengan tradisi spiritual Austronesia dan Kristen didokumentasikan secara unik dalam delapan karya seni dari Lombok dan Sumbawa yang dipilih untuk dipamerkan di Jeddah. Koleksi yang ditampilkan beragam, termasuk naskah bergambar, tekstil tenun, dan kerajinan logam mulia. Ada satu set sirih yang mewah yang menampilkan prasasti yang mencatat nama pemiliknya pada abad ke-19 yang merupakan seorang wanita Brahmana Bali dan penutup kepala wanita bersulam mewah yang dihiasi dengan gambar-gambar Islam yang penuh pesona.

Tonggak sejarah ketiga bagi Museum Nusa Tenggara Barat adalah hadiah dari kolektor Australia, Michael Abbott AO KC, berupa satu set lembaran Al-Qur'an dari India, tertanggal sekitar tahun 1700, kepada Museum. Sepengetahuan penulis, ini adalah pertama kalinya seorang kolektor seni pribadi Australia dengan murah hati menghadiahkan karya seni kepada museum publik di Indonesia. Selain itu, Abbott telah mengusulkan sumbangan lebih lanjut berupa tekstil Sasak untuk menambah koleksi Museum. Pemberian Al Qur'an ini sangat berarti karena penduduk Lombok terkenal dengan kesalehan agamanya: oleh karena itu Lombok dijuluki 'Pulau Seribu Masjid'. Hadiah dari Abbott ini pertama kali dipamerkan dalam pameran Khazanah Ramadan yang diadakan di Masjid Raya Al-Muttaqin di Mataram untuk merayakan berakhirnya Bulan Puasa pada bulan Maret 2024.

Donasi Abbott terinspirasi oleh kerja keras Nuralam dan stafnya dalam mempromosikan institusi dan koleksinya. Kebijakan Museum untuk melibatkan mitra internasional dicontohkan oleh keterlibatan saya sendiri selama dua tahun terakhir sebagai kurator seni Asia Australia pertama yang ditempatkan di lembaga publik Indonesia dalam jangka panjang. Hadiah dari Abbott juga mencerminkan kolaborasi profesional saya selama 30 tahun dengan kolektor Australia yang terkenal ini, termasuk sebagai co-editor untuk publikasi tahun 2023 yang berjudul Interwoven journeys: Koleksi Michael Abbott tentang seni Asia.

Kesiapan Museum untuk terlibat dalam perdebatan nasional seputar lokasi yang paling tepat untuk Harta Lombok dan undangan Arab Saudi untuk berpartisipasi dalam Islamic Arts Biennale Kedua 2025 merupakan bukti pencapaian museum dan kepercayaan diri profesional organisasi yang menginspirasi perubahan positif di sektor museum di tempat lain di negara ini. Hal ini juga mencerminkan profesionalisme yang berkembang dari generasi baru pekerja budaya di Indonesia yang terlibat dan fokus pada pengembangan keterampilan manajemen warisan budaya. Perubahan ini tidak terjadi begitu saja karena pergeseran serupa sedang terjadi di sektor pendidikan, pengembangan masyarakat, dan lingkungan di Indonesia. Hal ini merupakan bukti transformasi sosial yang cepat yang terjadi di negara ini yang hanya diketahui oleh sedikit orang Australia.

James Bennett adalah Kurator tamu, Museum Negara Nusa Tenggara Barat; Emeritus Kurator Seni dan Budaya Asia Tenggara, Museum and Art Gallery Northern Territory Australia; dan Pakar Tamu AlMadar untuk Biennale Seni Islam Internasional Arab Saudi 2025.

*diambil dari The Journal of Asian Art Society of Australia vol.34 no.1 March 2025

Diterjemahkan oleh: 
Yunita Ratnaningtyas, SS (Pamong Budaya Muda Museum Negeri NTB)