Kawindra UI: Cerita Prosa Rakyat Antara Bertahan Atau Hilang?
2024-10-04
Lombok Tengah, yang terletak di tengah Pulau Lombok, dikenal dengan kekayaan budaya dan tradisinya yang masih lestari hingga kini. Wilayah ini tidak hanya memiliki keindahan alam yang memukau, tetapi juga kekayaan warisan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita ini mencerminkan pandangan hidup, kepercayaan, serta nilai-nilai luhur masyarakat local, terutama Masyarakat Sasak. Dari Mitos, Legenda, dan Dongen yang beraneka ragam, dimana setiap cerita memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal yang patut dilestarikan.
Dalam tahap pertama kegiatan, tim Kawindra terjun langsung ke 10 desa yang tersebar di seluruh Lombok Tengah. Kegiatan di setiap desa diadakan masing-masing selama satu hari dan dibagi menjadi dua sesi, dimana sesi pertama untuk pendataan Cerita Prosa Rakyat dengan metode deep interview dan sesi kedua pendataan beserta dokumentasi tempat-tempat suci/sacral yang berkaitan dengan cerita-cerita prosa rakyat yang sudah di paparkan di sesi pertama.
Dalam Sesi pertama kegiatan, tim kami membuka acara untuk memperkenalkan diri, beserta menjelaskan tujuan kedatangan kami, beserta tujuan dari kegiatan yang akan kami lakukan. Setelah itu kami diarahkan untuk bertemu narasumber, yang berbeda jumlahnya di setiap desa yang kami datangi, seperti di Desa Batujai kami hanya mewawancarai satu narasumber saja, sedangkan di Desa Karang Sidemen kami mewawancarai empat orang narasumber. Tempat kami melaksanakan deep interview juga berbeda-beda, tergantung dari pemerintah desa, ada yang langsung di Kantor Desa, ada yang langsung dui rumah narasumber, dan juga ada di tempat suci/sacral di desa tersebut. Saat melakukan sesi deep interview kami sudah menyiapkan terlebih dahulu pertanya-pertanyaan wawancara, agar saat sesi deep interview bisa terarh dan tidak melebar kemana-mana.
Setelah sesi pertama, dilanjutkan dengan sesi kedua yang dilaksanakan di tempat-tempat suci/sacral di desa tersebut. Pada sesi ini kami lebih banyak melakukan pendataan benda-benda atau situs yang disucikan dan sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk video dan foto. Dalam Sesi ini juga biasanya kami mendapatkan data-data tambahan dari narasumber, karena biasanya narasumer menceritakan cerita-cerita lain ketika menunjukkan tempat-tempat suci/sacral di desa mereka.
Setelah pengumpulan cerita rakyat, kegiatan berlanjut dengan mendata naskah kuno yang berkaitan dengan cerita rakyat atau bahkan merupakan versi tulis dari cerita-cerita prosa rakyat yang sudah di kumpulkan sebelumnya. Naskah-naskah kuno ini merupakan koleksi dari Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang dimana museum NTB ini memiliki koleksi naskah yang sangat banyak, lebih dari seribu naskah yang terdiri dari berbagai macam jenis teks naskah. Tim Kawindra diberikan akses oleh Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat, untuk mendata serta mebdokumentasikan naskah-naskah kuno yang bertipe cerita Prosa Rakyat. Saat pelaksanaan kegaiatan di Museum, kami disambut dengan hangat oleh Bapak Kepala Museum, beserta Jajaran dan Staff dari Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan kami diadakan di ruang Koleksi dan Konservasi, dan kami dibantu oleh pamong-pamong Budaya Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat, ketika melakukan pendataan dan dokumentasi naskah Kuna. Selain itu kami juga dijelaskan secara detail mengenai naskah-naskah kuno ini, yang berkaitan dengan cerita Prosa Rakyat. Kegiatan kami di Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat juga bertujuan untuk menjalin Kerjasama lebih lanjut, jikalau kegiatan yang kami laksanakan, akan di lanjutkan di masa mendatang, sehingga kami bisa berkolaborasi dalam memperkenalkan kebudayaan ke generasi muda dalam kemasan yang lebih modern.
Sebagai bagian dari upaya melestarikan cerita rakyat, tim Kawindra juga mengadakan kegiatan sosialisasi di lima sekolah di Lombok Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali cerita rakyat kepada para siswa dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Dalam sosialisasi ini, siswa diajak untuk mendengarkan dan menceritakan ulang kisah-kisah yang mereka dengar, yang kami dapatkan saat turun ke 10 desa, dan juga kami membuatkan semacam buku dalam bentuk pdf, yang berisi beberapa cerita Prosa Rakyat yang sudah do kumpulkan, selain itu sosialisasi ini juga sambil mengajarkan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam cerita prosa rakyat tersebut. Para siswa sangat antusias mengikuti kegiatan ini, yang tidak hanya memperkenalkan cerita rakyat tetapi juga memperkuat rasa kebanggaan akan warisan budaya mereka.
Selain sebagai upaya pelestarian, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kembali cerita rakyat kepada generasi muda, yang mungkin sudah semakin jauh dari budaya dan tradisi lokal. Cerita-cerita prosa rakyat ini diharapkan bisa menjadi jendela bagi generasi muda untuk memahami sejarah nenek moyang mereka, sekaligus sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang terkandung dalam setiap kisah. Lebih dari itu, cerita-cerita ini juga mencerminkan identitas masyarakat Lombok Tengah, yang hingga kini tetap menghormati tradisi dan menjaga hubungan erat dengan alam serta sesama. Kegiatan ini juga tidak hanya berdampak pada pelestarian cerita rakyat, tetapi juga memberikan dorongan bagi masyarakat setempat untuk semakin bangga dengan warisan budaya mereka. Antusiasme Masyarakat desa dalam mengikuti kegiatan ini menjadi bukti bahwa cerita rakyat masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai sumber hiburan maupun sebagai media untuk mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai antar generasi. Dengan demikian, pengumpulan cerita prosa rakyat di 10 desa di Lombok Tengah menjadi langkah awal dari sebuah upaya besar untuk menjaga kekayaan budaya lokal sekaligus membangun kembali jembatan antara generasi lama dan generasi baru. Proyek ini adalah bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan relevan, bahkan di era modern yang serba digital seperti saat ini.
