Dari Pameran Peralatan Rumah Tangga Museum Negeri NTB ‘Tanaq Kaken’, Camilan Ibu Hamil di Lombok
2024-12-12
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat menggelar pameran temporer bertajuk, ‘Eksistensi dan Nilai Budaya, Alat Rumah Tangga Masyarakat Nusa Tenggara Barat, dibuka hari Jumat (13/12/2024), berlangsung selama sebulan di lobby Hall Museum Negeri NTB. Koleksi yang dipamerkan berjumlah 110 benda meliputi kapak serpi (flakes), kapak genggam, kulit kerang, kapak corong, manik-manik dan gerabah seperti jangkih (tungku memasak), ponjol (wadah nasi), remagan tempani, kekȇtȇ (wadah untuk sangrai), nyiru (kelȇong), tembolak (tutup saji) dan ceret.
Bagi generasi ‘Gen Zed’ saat ini mungkin hanya melihat bentuk fisik materi yang dipamerkan, yaitu peralatan rumah tangga dan benda-benda yang menyesaki ruang dapur ibu rumah tangga di masa lalu. Sangat berbeda dengan situasi dan kondisi dewasa ini, dengan hadirnya peralatan canggih dan moderen, yang memudahkan orang melakukan aktivitas serba instan.
Mau memasak nasi ada ‘majikjer’, bikin sayuran dan lauk-pauk sekaligus memanaskannya pun ada panci listrik yang bisa digunakan. Untuk operasionalnya, peralatan masak menggunakan tenaga listrik, tinggal dicolok pada aliran listrik, tunggu dalam hitungan menit, masakan sudah matang, siap dhidangkan dan disantap. Perkembangan zaman -atau alasan tidak mau ribet, lalu tuntutan akan efisiensi pekerjaan, kini orang banyak meninggalkan peralatan dapur tradisional.
Terlepas dari fungsi peralatan dapur terbuat dari tanah yang merupakan hasil tangan terampil perajin, tetap ada obyek-obyek bernilai sejarah yang bisa dilihat dan akan selalu diingat karena Indonesia memiliki banyak warisan budaya yang beragam dan unik. Bahkan dari material pembuatannya, tanah liat justru memiliki kandungan yang berguna bagi kesehatan.
Di Lombok -mungkin juga di daerah lain di Indonesia, tanah liat biasanya jadi camilan atau semacam permen bagi ibu hamil. Di masa lampau banyak dijual di pasar lokal, terutama di hari-hari pasaran. Tanah liat ini disebut ‘tanaq kaken’ (tanah yang bisa dimakan). Bentuknya lempeng bulat-tipis, dalam ukuran kecil maupun besar seukuran diameter kerupuk.
Dari para ibu rumah tangga penulis mendapat informasi, bahan baku camilan itu berupa tanah liat pilihan yang cermat, bersih dan suci. Lokasinya khusus, bukan di jalan yang sering dilalui manusia dan hewan, bisa di seputar kampung atau kawasan hutan dan tempat tersembunyi lain, tidak berkerikil apalagi ada kandungan telur cacingnya. Cara pembuatannya, tanah liat itu diadon, dipukul-pukul agar padat, ditambah air sedikit demi sedikit. Setelah itu adonan tanah liat dibentuk melingkar dan dijemur sampai kering, mengeras bak kerupuk, sehingga tanaq kaken siap dicamil.
“Itu dulu, sekarang tidak ada lagi yang makan, pembuatnya tidak ada. Orang tua dulu punya kepercayaan mengonsumsi ‘tanaq kaken’, konon membuat badan ibu hamil tidak lemas,” kata Baiq Sipak (55), warga Desa Kopang, Lombok Tengah. Komentar itu bisa diterjemahkan, bahwa tanaq kaken adalah ‘asupan’ berenergi, membuat ibu bertenaga, dan tetap melakukan aktivitas rumah tangga, entah memasak atau bekerja yang ringan, atau pun jalan-jalan rutin pagi-sore hari. Jadi pertanyaan, kenapa sih ibu hamil di desa di Lombok, umumnya jalan tanpa sandal, nyeker. “Ndak tahu kenapa, ibu hamil biasanya jalan ndak pakai sandal, apa ada pengaruhnya pada kesehatan, atau cuma ambil enaknya saja biar gampang jalan,” ungkap Sipak.
Kearifan lokal
Bagi penulis yang awam, melihat ibu yang dengan enaknya ngemut tanah liat itu, tidak bisa membayangkan rasanya. Begitu pun menyaksikan ibu hamil tanpa alas kaki adalah hal biasa, dan senang melaukannya, sebagaimana yang dilakukan leluhurnya. “Memang demikian yang dilakukan papuq-baloq (nenek moyang) kami”, begitu rata-rata jawaban mereka.
Rasa penasaran itu baru terjawab dari sejumlah telusur pustaka. “Berjalan tanpa alas kaki ketika hamil, selain membantu mengurangi peradangan yang disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel tubuh yang berefek pada komplikasi (kanker, penunaan dan masalah jantung), juga dapat membantu melepaskan elektron positif dalam tanah dan berpindah sebagai antioksidan yang mencegah terjadinya peradangan atau inflamasi. (https://www.nesiaverse.com/jalan-pagi-ibu-hamil-pakai-sandal-atau-tidak/,20 Oktober 2023, diunduh Kamis 12 Desember 2024).
Kajian lain menyebutkan, ajian dalam tanah liat terdapat kaolin, zat besi, oksigen dan mineral alami lainnya. (https://kumparan.com/ragam-info/10-manfaat-tanah-liat-untuk-kesehatan-dan-rumah-tangga-20lms9sffbM/full, 11 Juli 2023, diunduh Kamis 12 Desember 2024). Zat-zat itu dapat membantu kondisi fisik ibu hamil. Misalnya, kaolin dalam tanah liat dapat membersihkan racun jahat (aflatoxin), dan dapat digunakan untuk obat diare, menguatkan pencernaan, dan menjaga sistem kekebalan tubuh.
Kemudian zat besi dalam tanah liat, dapat mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk janin, membantu meningkatkan hormon yang memang dibutuhkan oleh ibu hamil, membantu pembentukan plasenta, lalu membantu membentuk energi ekstra yang dibutuhkan oleh ibu hamil, sebab dalam satu tubuh ada dua nyawa: nyawa ibu hamil dan nyawa janin yang dikandungnya. Mengurangi resiko lahirnya bayi berat badan rendah/BBLR, mengurangi anemia, dan mengurangi terjadi pendarahan yang saat persalinan yang bisa saja berujung kematian pada ibunda, merupakan manfaat lain dari zat besi.
Jadi tanah liat sekadar bahan baku kerajinan dan konstruksi bangunan, melainkan juga bisa dibikin makanan yang ekstrim sekalipun, apalagi soal kuliner Indonesia adalah ‘gudang’nya. Namun dari fisik peralatan rumah tangga yang dipamerkan, ada aspek kearifan lokal yang ingin disampaikan Museum Negeri NTB kepada generasi ‘zaman now’.
Misalnya, keberadaan alat rumah tangga ‘tempo doeloe’ adalah sejarah peradaban masa lalu sebelum munculnya beragam peralatan dapur dari bahan, bentuk, teknologi pembuatannya. Malah kalau dipanjang-panjangkan, hasil karya seni kriya ini bukti tangan terampil peremuan perajin . Juga sebagai simbol nilai kebersamaan sebab proses produksi melibatkan banyak orang.
Itulah tampaknya niat diadakannya pameran ini, seperti komentar Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, bahwa “koleksi Museum NTB ini, tidak semata mengangkat warisan budaya, tetapi juga mengajak kita semua, peralatan rumah tangga tradisional sebagai contoh nyata kehidupan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Nenek moyang masyarakat NTB, telah menerapkan prinsip keberlanjutan seperti efisiensi, pemanfaatan sumber daya alam lokal, dan meminimalisir limbah”. Nilai budaya peralatan rumah tangga ini, dengan demikian, memiliki relevansi yang kuat dengan nilai kekinian.
